Tampilkan postingan dengan label Prose. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prose. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2015

Para Sahabat Langit

May 28, 2015 at 9:44pm

Aku tak pernah benar-benar mengingat, sejak kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta kepada langit dan isinya. Kata orang, cinta bukan sesuatu yang kita rencakan atau kita atur. Ia hadir begitu saja, tanpa butuh alasan, tanpa ada perkiraan waktu. Begitulah kekagumanku ketika menatap langit. Kekaguman yang tiba-tiba sudah ada dan tumbuh di dalam hati, tanpa aku sadari kapan atau bagaimana munculnya.

Satu hal paling indah tentang langit adalah, aku selalu bisa menatapnya dalam perasaan apapun, dan hal itu selalu menjadi terapi hati terbaik untukku ketika gundah. Menatap langit membuatku merasa begitu kecil dan tak berarti. Rasanya aku seperti serpih debu kecil di tengah hingar bingar dunia. Kadang aku membayangkan, Allah sedang balas menatapku dari atas sana. Apa yang mungkin Dia katakan ketika melihat tingkah konyolku?

"Hei, gadis kecilku, kenapa kau berjalan dengan kepala menengadah seperti itu? Awas, jangan sampai tersandung!" mungkin begitu.

Hahaha, aku memang suka melakukannya saat kecil dulu. Ada begitu banyak cerita tentang langit di masa kecilku, dan hebatnya, semuanya selalu terasa indah untuk dikenang kembali.

Malam-malam musim kemarau di tahun-tahun masa kecilku terasa begitu hangat. Langit di hari itu terlihat jauh lebih jernih. Aku paling senang berjalan kaki di malam hari, atau naik sepeda bersama Bapak. Kalau lelah berjalan, aku selalu meminta Bapak untuk menggendongku. Udara malam tak pernah terasa terlalu dingin. Aku selalu antusias ketika melihat sekelompok besar kunang-kunang yang berkelap-kelip cantik pada sebatang pohon atau pada rumpun semak-semak. Aku tak perrnah bosan melihatnya. Bahkan sampai sekarang, aku masih saja takjub ketika menemukan pohon penuh kunang-kunang. Aku suka melihat cahaya-cahaya kecilnya berkelip dalam kegelapan. Indah. Mirip bintang-bintang di langit. Kalau kita menatap sebuah bintang dengan fokus, pasti ia terlihat seolah sedang berkelip juga. Karena aku suka bintang-bintang, dinding ruang tamu akhirnya kupenuhi dengan gambar bintang. Aku menggambarnya dengan spidol berwarna-warni pula! Great! Masa kecilku kreatif tanpa batas, hahaaha...

Langit gelap menyembunyikan banyak cerita. Ada malam ketika aku bermain boneka kertas hingga larut, bersama sahabat masa kecilku. Ada malam ketika kami sekeluarga mengunjungi Medan Fair. Stan lempar gelang, wahana bianglala, lampu-lampu neon kecil berkelip warna-warni, semuanya menyenangkan. Ada juga suatu malam ketika aku menangis frustrasi karena tak bisa mengerjakan PR matematika pertamaku. Bapak, dialah pahlawan yang menyeka tangis si little princess.

Saat pertama kali mendapat pelajaran IPA, aku bersemangat sekali ketika kelasku memasuki bab tentang tata surya. Belajar tentang meteor, planet, matahari, bulan, satelit, dan benda-benda langit lainnya benar-benar membuatku bahagia. Aku ingat, hampir setiap halaman bab tata surya itu kuberi tanda dengan highlight color. Itu kulakukan karena sulit sekali bagiku memikirkan bagian mananya yang tidak penting. Semua kalimat terasa sangat penting untukku!

Langit. Oh, langit.

Aku ingat suatu pagi dengan langit yang sangat indah. Saat dunia menjemput sang bola cahaya yang hangat, langit yang gelap berubah dan mulai bercampur warna dengan biru, merah muda, violet, dan sedikit jingga. Di timur, selalu ada satu bintang paling besar yang selalu kuamati. Kejora. Disebut juga planet Venus. Dia selalu berkilau cemerlang, bagai berlian yang melayang tinggi di angkasa. Aku mengaguminya sepenuh hati, dan bahagia sekali ketika aku mulai menghafal lirik lagu "Bintang Kejora".

Pagi-pagi Ramadhanku di masa kecil, adalah pagi ketika adzan dari masjid terdengar begitu jelas, begitu jernih membelah heningnya fajar yang pelan-pelan menyelimuti langit gelap. Luna kecil bangun penuh semangat, mengambil wudhu lalu berjalan ke masjid yang hanya berjarak lima rumah dari rumahnya. Pagi-pagi yang kosong bisu terisi dengan tawa dan celotehnya bersama teman-teman mungilnya. Ia, Luna selalu punya banyak teman. Hihi, aku selalu salut dengan jiwa masa kecilku. Little Luna, where are you? Dia adalah gadis kecil tangguh, loveable, penuh semangat, tak pernah takut dengan kekalahan. Ia bahkan tak pernah mengenali bacaan-bacaan sholat, tetapi "jiwa mesjid"-nya mengalahkan para pria. Ahahaha.

Walau waktu terus berjalan, langit tak banyak berubah ketika aku mulai remaja. Itu adalah hari-hari ketika Luna kecil kehilangan kepercayaan diri. Aku sangat paham apa dirasakannya. Sendirian. Kesepian. Tak ada yang memahaminya. Ia tak punya teman, bukan karena tak ingin berteman. Dunianya berubah. Terbalik sepenuhnya. Ia berusaha keras untuk masuk dan terbiasa, tapi ternyata sulit sekali. Gadis-gadis kecil di sekelilingnya berubah menjadi wanita-wanita pencinta harta. Di sudut-sudut kelas selalu ada ajang pamer gelang terbaru, style rambut terbaru, baju terbaru, dan macam-macam lagi yang terbaru. Sekolah berubah menjadi panggung catwalk. Gap terbentuk dengan mudah. Luna kecil tak bisa masuk ke geng cewek yang manapun. Ia terbuang. Kasihan. Ketika keluarganya pindah ke rumah baru bertingkat dua, di sana ia kembali mengadu kepada langit setiap malam. Mengamati yang mana satelit dan yang mana meteor... Menempelkankan banyak gambar planet-planet dan bulan di dinding kamar barunya... Mempelajari mitos-mitos Yunani kuno tentang dewa dewi yang namanya dijadikan nama-nama planet... Bahkan, mengawali menulis diary dengan kata "Dear Stary Sky."

Begitulah. Langit dan para sahabatnya menjadi teman sepanjang hidupku. Ketika aku mulai rajin membaca Al-Qur'an, aku bangga sekali menemukan bahwa namaku merupakan nama dari salah satu ayat suci di sana : Al-Qomar, yang berarti bulan. Aku dulu bertanya-tanya, jika aku jadi bulan, lalu dimana keluargaku?

Aku pernah membuat sebuah pengandaian. Langit adalah Bapak, karena ia memeluk seisi dunia. Matahari adalah ibuku, karena ia hangat dan menghangatkan siapa saja. Adik pertamaku adalah venus, karena ia cantik, sensitif, dan feminin. Merkurius adalah adik kecilku, karena ia tangguh tapi teramat manja, letaknya dekat dengan ibuku, matahari. Jadi, kenapa aku harus bulan? Karena aku mendapatkan sinarku dari ibuku. Sinarnya membuatku bertahan dalam kegelapan. Hihi, Luna kecil suka berandai-andai.

I wonder, where is that little loveable girl? The sky is missing her...

Mungkin, dia di bulan.

Harga

May 27, 2015 at 10:24pm

Harga berarti nilai suatu barang, begitulah pengertian sederhananya, menurutku. Kayaknya aku harus mencari makna spesifiknya di KBBI. Oke. Kapan-kapan.

Well, I'm wondering.... Seringkali.... Jika diriku ini diberi harga yang sesuai, aku akan dihargai berapa oleh manusia? Adakah yang berfikir aku layak dibeli? Dimiliki?

Merasa berharga karena dihargai itu ternyata menyenangkan. Aku tak pernah tau dan tak pernah begitu peduli. Selama ini, aku selalu melakukan apa yang menyenangkan hatiku, tanpa pernah berfikir, bahwa setiap sikapku, kata-kataku, diriku, juga memiliki harga di mata orang lain.

Aku ingat, pernah sekali waktu merasa begitu berharga. Perasaan berharga itu ternyata menimbulkan kekuatan tersendiri di dalam hati. Ketika aku merasa keberadaanku cukup berarti untuk orang lain, aku merasa lebih berguna, lebih bermakna, lebih kuat. Rasanya tak ada yang tak bisa kulakukan.

Di suatu waktu, nanti, pada saat yang tepat, aku ingin Tuhan mengirimiku perasaan macam itu. Lagi. Aku ingin menjadi sosok yang berarti bagi seseorang. Aku ingin merasa berharga karena aku punya nilai tersendiri bagi seseorang. Aku ingin dihargai dengan harga yang pantas. Bukankah menyenangkan, jika kehidupan kita yang sebentar ini, ternyata punya makna yang dalam untuk orang lain?

Terlalu Banyak Rindu

May 28, 2015 at 2:40am

Beberapa malam ini aku kembali insomnia. Cuma ada dua hal yang selalu kulakukan ketika tidak tidur : membaca dan menulis. Bukan CaLisTung, itu kerjaan anak SD :D Sekali membaca, aku betah membaca berjam-jam sampai pagi, apalagi saat tengah malam begini, suasana sepi dan tenang, otak jernih, asik banget buat membaca atau menulis cerpen. Sudah satu bulan ini, aku terus berlatih menulis. Kadang-kadang frustrasi juga ketika menyadari ternyata ceritaku terlalu kaku dan mind-logic-nya nggak mantep. Berharap bisa menjerit di saat-saat buntu seperti itu. Sedepresi-depresinya, sejauh ini aku belum berniat berhenti menulis. Bisa dibilang, menulis adalah hal yang paling kurindukan dan paling ingin aku lakukan sepanjang tahun ini. Sedih, teringat saat-saat SD ketika aku semangat sekali menuliskan apa saja. Tidak pernah berhenti berjuang walau tulisanku beberapa kali nggak published di majalah anak-anak waktu itu. Semangat membara itu, kemana hilangnya selama tahun-tahun yang telah terlewati tadi? Aku tak habis pikir. Saat SMP, aku ingat sekali, aku pernah membuat cerita bersambung lengkap dengan ilustrasinya. Aku menuliskannya di sebuah buku tulis khusus. Teman-temanku selalu menjadi pembaca setia yang menanti-nanti kelanjutan ceritaku. Selain itu, aku juga ingat bagaimana serunya menulis mading bersama teman-teman. Kadang-kadang aku mendapat tugas menulis, kadang membuat ilustrasi. Aku nggak pernah bosan mengirim puisi-puisi cupu-ku ke berbagai majalah anak-anak dan remaja. Saat itu, sebagai gadis kecil yang terlalu asik dengan dunianya sendiri, entah kenapa aku nggak pernah kekurangan ide untuk menulis. Selalu ada yang kutulis. Paling bahagia saat dapet honor dari majalah. Rasanya kayak habis dikasih harta karun. Hahhah. Asik yaa. Kenapa baru sekarang aku merindukan saat-saat itu? Rindu itu rasanya sakit. Sekarang, walaupun aku mulai menulis lagi, tapi rasanya nggak sama seperti dulu. Mungkin karena aku terlalu lama vacuum menulis ya? Entahlah...tapi karna rindu, makanya sekarang aku menulis hampir setiap hari. Seolah-olah setiap tulisan itu berbisik padaku, "jangan tinggalkan aku lagi..." ^_^ Aku akan terus belajar, insyaa Allah.

Salah satu orang terbaik yang menyemangatiku untuk menulis adalah Lit-D. Oh D, I'm really missing you... Jika ada orang yang paling ingin kutemui saat ini, orang itu adalah dia. Teman terbaik, teman paling sabar, teman yang paling menyayangiku. Terlalu banyak kata tentang kebaikannya. Dia seperti seorang kakak berhati tangguh. Tidak satupun saat-saat bersamanya yang bisa kulupakan. Aku rindu hari-hari ketika kami berjalan kaki di bawah rindangnya pohon-pohon, menuju Masjid Kampus UGM, berdua, penuh cerita sepanjang jalan. Aku rindu saat-saat ketika kami mengendap-endap di depan kantor jurusan, menghindari dosen pembimbing kami yang beraura kutub utara, hahhah. Lit-D, aku berharap akan datang hari-hari ketika kita tertawa bersama lagi. Walaupun sekarang semuanya sudah tak sama lagi, aku yakin perasaanku tentangmu akan tetap sama sampai kapanpun. I miss you... *crying*

Dan sekarang Ramadhan semakin mendekat. Daftar kerinduanku bertambah banyak. Sekali lagi, rindu itu rasanya sakit. Bikin sesak di dalam dada.

Aku sangat merindukan ibuku. Aku rindu semua tentangnya. Aku rindu caranya mengkhawatirkanku. Aku rindu nada suaranya yang selalu cemas hanya karena aku belum makan siang. Aku rindu setiap rasa masakannya. Aku rindu dengan wajah tegarnya. Ibuku adalah orang paling hebat yang pernah kukenal di dunia ini. Kuharap aku setangguh itu. Aku ingin Tuhan menganugerahiku hati seperti yang dimiliki ibuku. Hati yang selalu menerima segala sesuatu dengan baik. Hati yang selalu memaafkan. Hati yang lembut seperti kapas, tapi juga kokoh seperti karang. Tahun 2014 adalah tahun yang dalam sejarah hidupku, ketika aku sangat amat sering memeluknya. Ketika aku mulai sakit, ibuku selalu terjaga dan memeriksa kondisiku. Dia yang menangis untukku. Dia yang berdoa untukku. Dia yang menguatkan hatiku. Aku sedih melihatnya tidak bahagia. Satu hal yang sangat kuinginkan saat itu, aku ingin Allah beri kesembuhan, hanya agar ibuku tersenyum lagi. Aku tak kuasa saat memandanginya ketika tertidur. Tak terasa, wajah cantiknya mulai menampakkan kerutan halus dan bagian bawah matanya menjadi gelap karena kurang tidur. Hatiku terluka mengamati setiap tanda-tanda kelelahannya. Apa yang sudah kulakukan? Aku menyulitkan orang yang paling mencintaiku, bagaimana mungkin? Sampai saat ini, aku tak pernah tahu apa yang dapat kuberikan untuknya. Jika sampai mati aku tak bisa memberi apa-apa, setidaknya, aku ingin menjadi anak perempuan yang baik untuknya, sampai hari terakhir hidupku. Emak, ini janjiku untukmu : Aku akan selalu berusaha taat pada Allah. Percayalah, sekeras apapun imanku digoda, aku akan berjuang menjadi anak baik untukmu.

Wah, aku menangis ternyata. Hahaha. Dasar cengeng. Ini karena aku sangat merindukannya...

Ramadhan di depan mata. Aku tak sabar. Semoga Allah temukan aku dengan bulan penuh ampunan ini. Dosa-dosaku pasti sudah kembali menumpuk. Aku senang Allah ciptakan satu bulan kesempatan menghapus dosa. Keren aja. Terasa kayak door prize :D Ramadhan di kampung halaman juga mengundang kerinduan. Ramadhan tak pernah terasa sama di setiap kota yang pernah kusinggahi. Tentu saja, Ramadhan paling asik tetaplah Ramadhan yang bersama keluarga. Tiba-tiba, ingat nada suara Nenek ketika membangunkanku sahur saat berlibur di rumahnya beberapa hari. Tuhan, aku merindukan mereka semua. Ramadhan kali ini aku berencana pulang. Selain karena kondisi kesehatan yang tampaknya menurun, juga karena aku ingin menumpahkan semua kerinduanku. Yeah, Home, I'm coming...

Sebenarnya, masih banyak kerinduan-kerinduan lainnya, tapi ini sudah pukul setengah tiga pagi. Aku ingin istirahat sebentar sebelum sholat subuh.

Untuk saat ini, aku belum bisa menulis di blog. Mungkin aku akan melampiaskan keinginan menulisku di sini saja untuk sementara, sampai aku bisa kembali lagi ke blog.

Salam rindu untuk Luna dan teman-teman kelinci di bulan.
xxx!

Minggu, 24 Mei 2015

Pulang

Dear Moony,
Hi. I'm not ok. Sepanjang bulan ini kondisiku menurun. Aku nggak sedang sedih kok. Aku ingin sekali bisa bilang aku baik-baik saja, tapi aku takut kalau ternyata itu tidak benar. Belakangan ini, aku takut memastikan hal-hal tertentu.
Nggg...apa yang menarik di bulan ini?
Well, aku mengikuti dua kontes menulis cerpen, aku juga sudah mengirim cerpenku ke salah satu majalah. mungkin itu saja yang hebat. Selebihnya, aku masih belum melakukan apa-apa. Karena kondisi tubuh yang tidak fit, aku bahkan belum pergi kemana-mana untuk merayakan hari ulang tahunku di awal bulan Mei ini... Tuhan, aku rindu tubuhku yang sehat.
Hal penting lainnya adalah, orangtuaku memintaku pulang sebelum Ramadhan. Aku tidak yakin, tapi sepertinya harus. Kalau aku pulang, aku akan berpuasa di rumah. Aku juga akan puasa dari internet dan memegang laptop.
Aku belum benar-benar memutuskan ingin pulang atau tidak.
Nah, itu dulu saja. Aku sakit. Write to you later.

Jumat, 15 Mei 2015

Tiga Tipe Cowok Idaman Versi Luna

Hai, Gals!

Hari Jumat nih. Kamu masih jomblo aja? Gue juga. Hahah. Eh, apa hubungannya hari Jumat dan jomblo ya? Bodo ah.
Karena bingung cari bahan untuk ditulis, akhirnya aku putuskan untuk menjabarkan tipe-tipe cowok yang sangat aku impikan. Ecchieee. Kurang ide banget. Nggak papalah. Dari pada aku bengong terus kesambet, mending ngomong sendiri di blog.

1. Sholeh
Fiuuhhh! Ini nih yang sampe sekarang belum pernah aku temukan seumur hidupku! Iya, serius.
Source : lucugambar.com
Cowok sholeh sih banyak ya di dunia ini, tapi yang menarik hatiku sampai saat ini belom ada, dan juga belom ada cowok sholeh yang tertarik sama aku. Ahahaha. Cowok sholeh itu keren, Gals! Kata imam Safi’i, “Jika seorang pria dengan mudah meninggalkan Tuhan-nya, maka dengan mudah juga dia akan meninggalkan wanitanya,” setuju nggak? Kudu setuju! Bener kan kata-kata beliau? Tuhan itu dzat yang paling mencintai kita lo. Nggak peduli kita taat atau nggak taat, Allah nggak berhenti menyayangi kita. Dikasih tubuh yang lengkap, oksigen gratis, kemampuan berfikir, Allah kurang apaah??? Nggak taat aja, kita masih bisa mendapatkan semua itu, apa lagi kalo taat! Kelar cinta lu sama manusia! Ahaha. Cowok yang sholeh pasti patuh sama aturan Allah, nggak berani nakal. Sekali dia memiliki seorang wanita dalam hidupnya, insyaaAllah dia jaga baik-baik selamanya.
Tapi, tapi… cowok yang baik tentunya ingin wanita yang baik juga dong, begitu juga sebaliknya. Sebagaimana dikatakan dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 26 :

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)."

So, kalo kamu ngarepin dipilih oleh pria sholeh, perbaiki diri dari sekarang! Belum terlambat! Hihihi, semangatttt!!! ^_^


2. Genius bin smart bin cool
Nah, yang satu ini juga tipe-tipe cowok langka di jaman ini, Gals! Walaupun langka, tapi aku sudah
Source : www.cosplayfu.com
mengalami dua kali jatuh cinta sampe sekarat sama cowok genius! Ahahah. Kenapa sih, cowok pinter itu terlihat keren di mataku? Nggg….well, mungkin karena aku selalu berfikir, cowok super-smart itu selalu bisa diandalkan. Soal-soal matematika paling rumit aja selalu bisa dia selesaikan dengan otaknya yang cemerlang, tentunya dia juga tipe orang yang tangguh menghadapi masalah kehidupan kan? Ehehe, belum tentu juga sih ya, tapi kira-kira begitulah gambaran umum isi kepala aku. Ahahaha.
Cowok punya otak brilian itu penting lo, Gals! Jangankan cewek-cewek, Allah saja meninggikan derajat orang-orang berilmu, coba lihat ayat ini :

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Disamping itu ilmu merupakan jalan untuk menuju surga, sebagaimana disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra "Rasulullah saw bersabda, barang siapa yang berjalan untuk mencari ilmu, maka Allah swt akan memudahkannya jalan untuk menuju surga." ( HR Muslim )

Dulu, waktu masih cupu banget jaman SMP, aku sempet masuk kelas unggulan yang isinya sebagian besar adalah cewek, Gals! Mau tau di kelasku ada berapa cowok? Cuma delapan orang! Terbukti kan, cowok genius itu makhluk langka, Gals! Tanpa daya upaya, aku jatuh cinta deh sama salah satu dari ke delapan pria cool itu. Iya, gaya mereka emang cool selangit. Apalagi kalo udah disuruh guru ngerjain soal-soal rumit di depan kelas, kerennya bikin mau mati! Ahahaha.
Saat kuliah, peristiwa yang sama terulang kembali, aku jatuh cinta sama adik kelasku sendiri yang super genius. Secara, Gals, di jurusan aku, sastra Inggris, rata-rata cowok pada asik menjalani kehidupan “sastra”-nya, ahahah, nggak ada yang bener-bener konsentrasi penuh menjalani kuliah dan dapet nilai oke. Aku ketemu junior genius ini di salah satu mata kuliah yang kuulang. Nah, pas mau ujian semester, anak-anak di kelas ini harus ngikutin tes TOEFL sebagai materi ujian. Gila yah, tes TOEFL gitu loh, dan skor yang distandarkan untuk anak-anak English Literature nggak main-main, Gals! Terus, nilaiku gimana akhirnya? Hihi, pokoknya nilaiku selamat melewati standar deh. Tau, si junior genius dapet berapa? Nilai dia delapan angka lebih tinggi dari gueeehh!!! Aku fikir, sialan banget anak ini! Berani banget sama seniornya! Di situ deehhh mulai jatuh cintanya, ihiiirrr… Tenang, tenang, tapi aku nggak pacaran. Secara, cewek culun kayak aku, siapa sih yang mau? Hiks. Jadi, berkali-kali jatuh cinta sama cowok genius. Aku cuma bisa diam dan menuliskan berjuta puisi galau tentang mereka, ehehe….


3. Lucu dan penuh semangat
Kalo tipe yang satu ini, ada banyak banget! Cewek adalah manusia yang paling rajin galau, terutama
Source : fanpop.com
saat PMS. Beuh. Itu saat-saat suasana hati paling nggak karuan! Ahahah. Buat yang punya suami yang selalu pinter melucu dan punya banyak stok semangat, pasti masa PMS istrinya jadi menyenangkan, ahahahah.
Apa aku punya pengalaman dengan cowok macam ini? Ya!
Saat duduk di bangku SMK, aku jatuh cinta sama cowok populer di sekolah. Biasalah, standar-nya cewek puber, selalunya suka sama cowok kece, jago basket, terkenal di kalangan cewek, supel dan kocak. Udah, gitu aja. Aku suka dia dari kelas satu SMK, tapi seperti biasa, mentok cuma berani nonton dia kalo pas ada pertandingan basket di sekolah. Sepanjang tahun aku cuma bisa diem dan ngelihatin dia dari jarak aman, lucu ya, kayak mata-mata CIA gitu deh gerak-gerikku… Yang nggak aku sangka adalah, ternyata dia juga suka sama aku. Akhirnya kami jadian di kelas tiga. Ya, ini dia pengalaman pertama pacaran yang aku punya. Setahun pulang pergi sekolah bareng, banyak tertawa dan bercanda dengannya, aku bahagia. Sesenang-senangnya orang pacaran, akhirnya nangis juga, gitu kata pepatah dari Bapakku. Akhirnya kami putus, gara-gara aku bete banget karena dia orang yang lalai mengingat Allah. Iya, aku paling nggak tahannn sama cowok yang dengan mudah melupakan kewajibannya sama Tuhan-nya! Ini pertama dan terakhir kalinya aku pacaran, pacar berikutnya harus suami!
Sialnya, pacar pertama ini ternyata meninggalkan banyak bekas luka, eeaaaa :D Iya, dan pengalaman pacaran yang pertama ini membuat aku menyesal dan berdosa setengah mati udah pernah memutuskan untuk pacaran! Kalau ada hal yang paling pengen aku hapus dari cerita hidupku, hal itu adalah bagian di saat aku pacaran! Saking galaunya, sejak putus dari dia, aku merana dalam waktu lama dan sama sekali kehilangan semangat mengejar mimpi. Lebay ya, tapi fakta!
Apakah kisah cintaku berakhir disana?
Ternyata tidak! Belum lama ini aku berfikir, aku telah jatuh cinta sama seorang cowok. Ciiieee, siapakah orang paling sial tersebut? Dialah sosok dengan stok semangat full dan gila-gilaan! Aku terpesona dengan sifat ambisiusnya. Saking jatuh cintanya, aku sampe mikir, aku mungkin ingin memilikinya, bukan untuk dipacarin loh ya, tapi untuk dinikahi! Iya, serius! Tanpa mikir, aku pun langsung bilang aja sama orangnya. To the point aja, gila kan?! Tapi ini lebih baik dari pada ngajak pacaran. Secara, aku bukan orang yang punya waktu buat hubungan-hubungan nggak pasti, apapun jenisnya. Khadijah saja, mengungkapkan isi hatinya terlebih dahulu kepada Nabi Muhammad. Ini kata Khadijah :

"Aku menyukaimu karena kebaikanmu,
karena kejujuranmu,
karena keindahan pribadimu,
dan karena kebenaran kata-katamu…"

Manis sekali yaaa kata-kata Khadijah, hiks....
Jadi, walau cewek, nggak ada salahnya lo kita duluan yang mengungkapkan perasaan. Tau apa yang terjadi setelah aku mengutarakan perasaanku pada cowok itu? Aku langsung malu bin menyesaaalll! Iya, nyesel banget karena aku sudah ceroboh, mengatakan hal seserius itu tanpa mikir! Saat kepalaku udah dingin dan aku waras kembali, aku jadi sadar, aku nggak ingin memilikinyaaaa! Hyaaa! Nyesel banget. Sumpah. Kenapa tiba-tiba nggak ingin? Oke, jawabannya adalah, karena berumah tangga nggak cukup didasari dengan rasa jatuh cinta. Ternyata banyak hal-hal lain tentang dia yang belum aku pertimbangkan. Untunglah, dia adalah teman yang baik, jadi setelah aku minta maaf berulang-ulang padanya, akhirnya sekarang aku bisa hidup tenang. Yah, walau kadang-kadang masih menyesali kebodohan. Eh, sebenernya dia nggak baik-baik amat sih. Berhubung menyebar aib itu dosa, jadi nggak perlu lah ya disampaikan. Selain dosa, bisa-bisa aku juga diputuskan dari hubungan pertemanan dengannya. Haha. Dampak positifnya adalah, kegalauanku gara-gara pacar pertama dulu jadi hilang nggak berbekas, dan sekarang aku sedang semangat-semangatnya mengejar mimpi. Hihi, dia banyak mengingatkanku tentang diriku yang dulu, saat aku punya seribu ambisi, kayak orang yang nggak bisa berhenti bermimpi. Ini namanya ketularan semangat. Ajaib ya! ^_^

Nahhh, itu dia tipe-tipe cowok idaman versiku. Bagaimana denganmu? Apa kita punya selera yang sama? Kalau sekarang sih aku berharap menemukan yang 3in1. Haha. Iya, tiga tipe di atas, dalam satu raga. Ahahaha. Kalo kamu punya kakak cowok tipe 3in1, silahkan langsung daftarkan ke aku, atau sekalian ke Bapakku aja! Cus! Hahay. Ampuni ke-error-an saya yah, Readers!

Sesempurna apapun pria yang kita harapkan, jangan terlalu tinggi dalam berekspektasi ya, Gals! Inget-inget, manusia nggak ada yang sempurna. Kriteria utama dalam memilih pasangan hidup, jelaslah orang yang mampu menuntun kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Nggak mau dong seneng-seneng di dunia aja. Ya kan? Fine, tentukan pilihanmu dari sekarang, Gals! 

Senin, 11 Mei 2015

Mencintai Tanpa Takut Kehilangan?

Hihi, agak dramatis ya judulnya. Mencintai tanpa takut kehilangan. Ada? Ada! Emang bisa? Bisa dong!

Kamu punya orang yang disayangi? Sodara? Orangtua? Atau teman? Pernah nggak, takut merasa kehilangan? Takut berpisah? Takut ditinggal pergi? Atau takut ditinggal mati?

Pernah dong ya, posesif itu kan rasa yang manusiawi.

Ketika seseorang menangis karena ditinggalkan, pasti itu disebabkan oleh rasa sakit yang menusuk hati, eecchiiieee :D Kenapa sakit?

Rasa sakit itu menunjukkan, karena orang tersebut telah memiliki tempat di hatimu. Ibaratnya gigi nih ya, masing-masing udah punya tempatnya di gusi, coba kalo dicabut, sakiitt kaannn :D Bagian yang sudah tercabut itu terasa hilang dan bolong dan kosong dan hampa, ahahhahah (ngakak sendiri) :D

Oke, oke, back to the main topic. Rasa kehilangan itu adalah bukti bahwa kamu mencintai dan menganggap apa yang pergi itu adalah milikmu. Gimana caranya biar nggak merasa kehilangan?

Maka jangan merasa memiliki! Itu dia, Gals!

Aneh ya? Mencintai tapi kok nggak merasa memiliki, terus dianggep apaan? Ini lagi ngobrolin tentang Hubungan Tanpa Status??? Nggak ada statusnya, jadi nggak memiliki, gitu?

Bukan dong! Untuk bisa mencintai tanpa rasa takut kehilangan, yang pertama perlu kita perbaiki adalah persepsi kita tentang cinta itu sendiri. Alkisah, pada jaman dahulu kala, saya selalu diajarkan, bahwa cinta itu berarti tunduk atau taat. Ketika kamu mencintai Tuhanmu, ibumu, suamimu, maka kamu tunduk pada mereka. Tunduk di sini tentu berarti taat kepada hal yang benar, bukan taat semena-mena. Ketika kamu mencintai sahabatmu, artinya sahabatmu telah menundukkan hatimu. Kamu rela berbagi apapun bersamanya, rela menerima setiap kekurangannya, dan bersedia untuk selalu mendukungnya. Hati yang tunduk pada apa yang dicintainya, membuat pemilik hati itu siap untuk menjaga dan melindungi apa yang dicintainya. Gitu, Gals. Waduh, makin ke sini, ini tulisan lama-lama kok terasa lebay yah? -_- Mungkin karena saya sendiri tidak bergitu berpengalaman soal cinta, jadi terasa hambar kayak roti tawar. Hyaaahh, sudah abaikan! Dalam tulisan kan yang penting teori yah, ahahah.

Lanjut. Begitulah. Ketika kita mencintai Allah, maka kita tunduk pada setiap aturanNya, kita menjaga sholat-sholat kita, menjaga ucapan dan perilaku kita dari hal-hal yang tidak disukai-Nya. Kita hanya ingin Dia ridho, kita hanya ingin Dia menerima cinta kita dan mengharapkan balasan cinta-Nya. Ketika kita cinta kepada kedua orangtua kita, kita taat dengan setiap larangan walau cuma hal kecil seperti jangan tidur larut malam atau jangan membaca buku sambil tiduran (ini gue!). Itulah cinta, ketundukan yang membuat kita rela menjaga hati orang yang dicintai. Kadang, nggak cukup hanya dengan menjaga hati yang dicintai, tapi juga sampai menjaga jiwa raganya. Ibu kita, dengan segala kekhawatirannya ketika kita sakit, rela menunggui kita, merawat dengan penuh kesabaran. Ayah kita bekerja, demi menjaga kehormatan kita, agar kita setara dengan anak-anak lainnya, bisa tetap mendapatkan pendidikan, punya baju yang layak, punya handphone, cukup makan dan minum, dia rela lembur siang malem, sekedar agar kita tidak malu, tidak direndahkan oleh anak lain. Keren ya bisa mencintai seperti kedua orang tua kita ^_^ Jadi, point pentingnya adalah, dalam mencintai, sebenarnya tugas kita hanya menjaga dan melindungi, nggak lebih dari itu.



Masalahnya, hati yang telah takhluk dan tunduk itu bisa kebablasan, Gals! Ahahha (ngikik sendiri nulis ini). Saking kita berambisi untuk menjaga dan melindungi apa yang kita cintai, kita jadi lupa bahwa sejatinya kesetiaan itu hanyalah dipersembahkan untuk Allah saja. Iya, salah ketika kita mengalamatkan kesetiaan kepada manusia. Setiap hati manusia adalah milik Allah, maka ketika hati kita setia kepada Allah, sudah otomatis hati kita tidak akan berkhianat kepada siapapun. Pada Pencipta semesta aja udah setia, gimana lagi kalo yang dicintai cuma manusia, pastinya setia bangeeettt. Tentunya setia dalam hal yang bener ya, Gals! Idiih, mulai terasa garing lagi nih, apa cuma gue aja yang merasa begitu ya? Habis, entah kenapa nulis pake bertema cinta segala, pusing deh pala Barbie! -_-

Jadi, gimana sih caranya tetap mencintai tanpa takut kehilangan?

Eh, tiba-tiba jadi inget, kayak lagunya siapa tuh, cinta tak harus memiliki (eeaaaa).

Gals, tidak merasa memiliki terhadap apa yang kita cintai itu emang sulit. Kamu harus yakin, segala sesuatu yang ada dunia ini memang bukan milik kamu, termasuk orang-orang yang kamu sayangi. Allah yang punya! He’s the owner of us! Diri kita sendiri, fikiran dan hati, bahkan nyawa kita, semuanya milik Dia saja. Nggak satu hal pun adalah milik kita selama kita hidup. Itulah mengapa kita nggak boleh terlalu mencintai dunia, karena pada akhirnya, semua ini akan kembali kepada pemilik sebenarnya. Sesuai dengan makna cinta yang berarti tunduk, maka selama kita mencintai, kita hanya dititipi orang yang kita sayangi untuk kita jaga kita lindungi semampu kita, tidak lebih dari itu.

Jadi, ketika ada orang yang pergi keluar dari kehidupan kita, ikhlaskanlah, terimalah dan maafkanlah, karena kita sama sekali tidak berhak untuk campur tangan pada jalan hidup yang telah Allah tentukan bagi siapapun yang kita sayangi. Berdamailah dengan kenyataan. Yakinlah bahwa ketika Allah mengambil sesuatu dari tangan kita, itu karena Allah ingin menggantinya dengan sesuatu yang baru, yang lebih baik tentunya. Kebaikan ini Allah berikan bukan saja untuk orang yang meninggalkan, tapi tentu untuk orang yang ditinggalkan juga. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 216 :

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui,"

Gitu, Gals. Allah kan yang nyiptain kita, tentunya Dia lebih tau apa yang terbaik untuk kita. Jadi, udah deh, nggak usah ngotot untuk memiliki. Jangan maksa! Santai aja sih! Ahahah, ini yang nulis udah mulai bete. Atau, udah mulai laper yah? Ahahah. Intinya, yakinlah bahwa segalanya adalah milik Allah, bukan milikmu dan jangan lupa berprasangka baiklah untuk setiap kehilangan yang pernah terjadi dalam hidupmu. Setiap sesuatu yang pergi, jangan disimpan jadi benci, maafkan, ikhlaskan. So, jangan pernah takut kehilangan yah, karena Allah sudah berjanji, pasti memberi ganti yang lebih baik. Ini janji Allah lo, bukan janji aku, jadi kudu percaya! Memiliki atau tidak memiliki, kita tetap selalu bisa mencintai orang yang kita sayangi. Kalau tak bisa menjaganya dengan tangan kita sendiri, penjagaan paling hebat adalah dengan doa. Sip. Titipkan dia pada Allah. Percayakan pada-Nya. Selamat mencintai! ^_^

Kamis, 07 Mei 2015

3 Hal yang Harus Disyukuri Di Hari Ulang Tahun

Alhamdulillah, hari ini aku menuju umur ke-25, akhirnya selesai juga menempuh panjangnya umur 24. Iya, terasa panjang karena banyaknya hal-hal berat yang harus dilalui dengan kesabaran ekstra.
Tentu, segala kesulitan tidak berarti hanya berisi melulu hal-hal yang sulit, karena Allah memberi janjinya di dalam surat Al-Insyiraah (ayat 5) فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا yang artinya “karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Misal, saat lagi ngebet jajan buku, tiba-tiba pemasukan dari penjualan postcard meningkat pesat, ahaahha. Itu hanya salah satu "sesudah kesulitan ada kemudahan". Hal lainnya, yang mungkin terasa begitu berharga adalah, semangat dan kepercayaan diri yang baru. Sejak mulai sakit sekitar pertengahan tahun lalu, aku merasa kehilangan semua mimpi dan tujuan hidup. Tahun ini, Allah menemukanku dengan begitu banyak orang-orang hebat, yang walau mereka terkesan tidak memberiku apa-apa, tapi aku belajar banyak hal dari mereka. Banyak sekali mengambil manfaat dari setiap perkenalan (yang, walau singkat) dengan orang-orang baru tersebut.

Dengan semangat yang baru ini, ada tiga hal yang sangat aku syukuri, dan aku yakin, semua orang juga layak mensyukurinya di setiap hari ulang tahun mereka.
Source : imgarcade.com

Yang pertama adalah nikmat iman dan Islam. 
Ini nikmat yang luar biasa. Tanpa memilikinya, mungkin aku nggak akan pernah sedikitpun merasa bahagia dalam hidupku. Iman atau keyakinan akan Allah dan janji-janji-Nya membuatku mampu bertahan melewati apapun. Iman melembutkan hati yang keras dan menguatkan hati yang lemah.

Yang kedua adalah hidup sehat. 
Untukku, bisa berdiri, makan, berbicara, itu sudah jauh lebih dari sehat :D Sehat itu penting. Dengan sehat, kita mampu berbagi dan memberi lebih banyak hal untuk orang lain. Sehat membuat kita dapat lebih maksimal dalam beramal dan beribadah. Sehat memberiku lebih banyak kesempatan untuk bersenang-senang dalam hidup yang singkat ini.

Yang ketiga adalah kasih sayang Allah dan orang-orang di sekitarku. 
Nggak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendiri kan? Sekurang-kurangnya, selalu ada satu orang yang peduli di saat-saat paling genting. Aku bersyukur, Allah selalu mengirimkan orang-orang itu pada waktu yang tepat. Tanpa belas kasih Allah, dan tanpa kebaikan di hati orang-orang itu, aku nggak mungkin sekuat ini :-)

Itu saja. Nggak ada hal yang ingin aku keluhkan di hari ini. Allah memberi begitu banyak kesempurnaan dalam hidupku, dalam diriku, aku tidak layak bersedih atau pun merasa kurang.

Ajaibnya, hari ini surat Al-Kautsar terasa begitu istimewa, sampai aku merasa begitu terharu memaknai tafsirnya.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ١
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak".[1]

Al-Kautsar adalah nama sebuah telaga di surga yang bagi siapapun yang meminumnya walau hanya seteguk, maka ia tidak akan pernah haus lagi selamanya. Keren ya. . . . Jadi inget, selama dua bulan ini aku sering kehausan karena kekurangan air di kos, gegara mas-mas yang nganter galon nggak pernah datang lagi -_- (Astaghfirullah, dilarang mengeluh! Biarkan masnya bahagia! Barangkali itu yang terbaik baginya!)

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ٢
"Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah".[2]

Untuk mensyukuri nikmat besar yang Allah janjikan di surga, Dia memerintahkan kita untuk sholat dan berkorban. Berkorban di sini memang berarti menyembelih hewan, tetapi arti yang lebih luasnya adalah bahwa manusia diharapkan memiliki kerelaan berbagi dengan sesamanya, tidak mencintai harta duniawi.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الأبْتَرُ ٣
"Sesungguhnya orang-orang yang membeci kamu dialah yang terputus."[3]

Ayat yang ketiga ini ditujukan Allah untuk Rasulullah Saw., ‘wahai Muhammad, sesungguhnya orang yang membenci dan mencelamu itulah yang terputus dari semua kebaikan, terputus amal dan nama baiknya.

Rosulullah adalah orang dengan kepribadian sempurna yang selalu layak dijadikan contoh hidup. Banyak yang membencinya, tapi beliau teguh dijalan Allah. Aku berharap menjadi salah satu dari umatnya yang istiqomah untuk taat, semoga Allah selalu memberi kesempatan itu, aamiin.

Sekian catatan hari ini. Selamat ulang tahun yaaa untuk siapapun kamu yang berulang tahun juga di hari ini. Semoga selalu dalam perlindungan dan kasih sayang Allah :-) Ayo kita pesta es krim!

Rabu, 06 Mei 2015

What is Happiness?

NANAMI TAKAHASHI
Cewek cengeng yang selalu berusaha tersenyum,
karakter favorit saya di manga berjudul "Here We Are".

Menurut kamu, kebahagiaan itu apa sih?
Apa senyum selalu tanda dari kebahagiaan seseorang?

Aku sendiri, pernah mengalami saat-saat ketika nggak satu hal pun bisa bikin aku tersenyum. Saat itu, aku merasa benar-benar dunia ini telah memukulku jatuh ke tempat paling bawah, ke rasa sakit yang paling parah, sampai aku yakin aku nggak akan pernah bisa berdiri lagi.

Jatuh itu jelas nggak enak. Rasanya. . . putus asa, perih, nyesek pokoknya :D Sayang sekali, aku bukan orang yang akan menyerah ketika dipukul sampai sekarat. Bisa jadi rasa sakit itu membuatku menangis sepanjang hari, tapi itu bukan tangis kelemahan.
Nggg. . . .kita sebut apa ya? Oke, kita namai saja itu benteng atau pertahanan diri. Iya, kayak di konsepnya ilmu psikologi kan : “release the tense” yang artinya melepaskan tekanan. Hati itu sesungguhnya kuat. Segala macam rasa sakit dapat diserap di sana. Ketika kekuatan itu telah merangkul begitu banyak luka (tsaahh), akhirnya segala tekanan harus dilepaskan. Ibarat rumah penuh debu, semua pada akhirnya harus disapu! Dengan cara apa? Ya, menangis. Setelah semua tekanan itu dilepaskan dengan tangisan, kekuatan yang baru pasti muncul. Loh, kayak pendekar habis nyari wangsit yah! :D Iyah, memang begitu rumusnya. Karena air mata mampu membuang hormon stres yang ada di dalam tubuh, namanya endorphin leucine-enkaphalin dan prolactin. Maka setelah menangis, pasti ada rasa lega yang muncul. Jadi, kalo ada temen nangis deket kamu, jangan disuruh diem, biarin aja dia nangis sampe puas, kalo perlu meraung-raung sekalian! :D

Back to the main topic. Jadi bahagia itu apa sih?
Kalau menurut aku sendiri, bahagia itu adalah saat kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Wah, nggak manusiawi banget yah! Manusia kan selalu merasa kurang dan kurang dan kurang.

Merasa cukup memang sulit, apalagi saat kita sedang ditonjok jatuh oleh kenyataan (eeaaa). Misal nih ya, tiba-tiba ditinggal selingkuh sama pacar, atau tiba-tiba orang yang kita sayangi meninggal dunia, atau. . . .tiba-tiba pengen bangetttt beli buku langka yang udah diburu bertahun-tahun, ketika ketemu, malah nggak ada duit, gimana bisa merasa cukup dalam keadaan begini? Sulittt!

Nah, di situlah tantangannya! Tutor ngaji saya selalu mengajarkan, “kesabaran itu adalah ketika kamu berusaha berdiri di saat jatuh, kalo setelah itu, namanya bukan sabar lagi,” begitu katanya. Iya, jadi sabar itu adalah ketika kita berjuang keras menahan rasa sakit, berupaya menyembuhkan diri sendiri. Terus, bahagianya kapan dong? Bahagianya adalah saat kita menang, melangkah dengan hati yang sehat! Kalo hati udah sehat, dijamin deh, setiap hal-hal kecil sekalipun akan bisa membuat kamu tersenyum dan bersyukur.

Gimana kalo lihat mantan kamu punya pacar baru yang jauh lebih keren dari kamu? Huh, mantan kamu cuma lagi nambahin tabungan dosa doang! Pacaran itu kan nggak boleh! Udah biarkanlah dia bahagia bersama kekasih barunya.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”

Postcard dari temen di Hong Kong dan Russia!
Jelas favoritku yang sweet! :D
Jadi, katakan pada bayangan mantanmu, “oke, lu boleh punya pacar yang jauh lebih keren dari gue, tapi gue besok bakal menikahi ahli surga yang jauh-jauh-jauh lebihhh keren!” :D Gitu gals, jangan sedih cuma karna hal duniawi yang di mata Allah sama sekali nggak ada harganya.

Saat hati kita ikhlas menerima segala sesuatu, niatkan saja, “aku terima ini, agar Allah ridha”. Ketika kita ikhlas semata untuk menjalani skenario Allah, pasti hati merasa cukup dan nggak ada tuh yang namanya sedih berlarut-larut sampe mau gantung diri ;-)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, kesimpulannya, bahagia itu adalah ketika hati merasa cukup, gitu gals! Kayak aku nih, cuma nerima dua postcard dari temen aja girang banget. Bahagia, padahal ini kan hal yang sepele sekali ya. Kalo dipikir, berapa sih harga postcard plus prangkonya? Nggak lebih dari sepuluh ribu! Apalagi kalo kamu para postcrosser jajan postcard di Little Cherry, dijamin dapet postcard unyu dan harga terjangkau. Klik logo cherry di samping dan kamu bisa langsung mengunjungi Little Cherry! Ahahaha, modus sedikit boleh dong :D

Nah, mulailah merasa cukup dengan apapun yang kamu miliki. Life is beautiful! ^_^

Selasa, 28 April 2015

Manusia Berhati Spons



Kamu pernah mendengar tentang orang-orang berhati spons?
Mereka adalah orang yang selalu mengerti dan faham benar akan perasaan seperti itu : antara bersalah, menyesal, kecewa, tapi tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengembalikan keadaan.

Tenang, Allah mengkarunai mereka hati yang dapat menyerap dan menerima apapun dengan baik. Kuah soto, minyak, santan, susu, buih sabun; spons selalu menyerap apapun, lalu yang terakhir, dibilas dengan air bersih. Baik dan buruk meresap dengan sempurna ke tiap pori-porinya, diterima dengan penerimaan yang baik, tanpa terluka.

Kamu tau, spons itu lembut dan fleksibel. Dia tidak akan hancur hanya dengan diremas-remas atau disikapi dengan kasar, kecuali ada yang dengan sengaja berniat menghancurkannya.

Ketidaksengajaan selalu bisa diterima dan dimaafkan. Allah saja mau mengampuni, begitu fikir orang-orang berhati spons ini.

Lalu, kita sebut apa sahabat si spons yang menyesali ketidaksengajaannya itu?
Well, namai saja dia Patrick Star! Bintang laut itu bertekstur kasar dan keras, entah dia faham atau tidak, kepada apa dia merekat. Di luar itu, dia indah, dalam, tenang dan mampu menempel setia dalam waktu lama.di satu karang. Dia tak tau bahwa dia sekeras itu. Dia tidak sengaja. Oke, Patrick, kamu dimaafkan.   

Selamat berjuang untuk Spongebob dan Patrick! ^_^

Rabu, 15 April 2015

Between a Million Lights and Colors

I saw it,
Between a million lights and colors,
Was it just an illusion?
I raised my hands,
Trying to prove whether my sight was true,
Trying to feel the reality in front of my blind heart,
And it was just so surprising,
And I was thrilled
And my heart was trembled,
Just like the moment when I was a little girl,
Looked at the sky after the rain,
And there I found a miraculous rainbow that I adored.
That was almost like magic, I thought.

Really, I wondered,
When I found it,
Whether it was just one little part of my hallucination,
Whether it was just that silly unreal character that I had in mind,
Somehow, I felt like I was so satisfied,
To be here now,
Like a curious little girl who almost solved a big puzzle,
I wish it was that one little missing piece,
Just the last one piece I’ve searched long before,
One that will complete this whole riddle,
One complement piece,
And it was him,
And I saw him,
And I found him,
Standing between a million lights and colors,
Was it just a dream?
Or was it me who stood in the wrong point of view?
Really, I couldn’t believe my self,
I couldn’t trust my own sight,
I wanted to prove it,
Maybe someday, I thought.

Just like an illusion,
Like magic,
There he was,
Between a million lights and colors,
My missing piece.


Dunia Kaca Luna

Aku benci menulis. Sangat benci menulis.
Karena menulis menuntutku untuk jujur pada diri sendiri.
Aku bukan jenis orang yang dapat bersembunyi dibalik kata-kataku.
Embun kecil, tulisan ini kupersembahkan untukmu,
Untuk membalas kebaikan-kebaikanmu,
Kali ini saja,
Spesial untukmu yang selalu memberiku semangat 
dan mengajarkanku menjadi kuat.
Iqra’...
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ :-)

 ***



Luna menatap cahaya terang jauh di atas sana, pada langit-langit kastil kacanya yang tinggi, awan-awan tampak hanya seperti lukisan.
"Cukuplah ini bagiku, jangan mengeluh!" begitu ia selalu membatin.
Ini dunianya, dunia kaca, dimana segala sesuatu terlihat sama, tapi tak pernah cukup nyata untuk dapat dirasakan, apalagi disentuh. Kemanapun ia berjalan, segala sesuatu dibatasi oleh dinding-dinding kaca yang dingin. Sinar matahari tak pernah benar-benar menghangatkan kulitnya. Kadang ia berfikir, ini tempat yang paling bodoh yang pernah ia pilih dalam hidupnya, tapi ia salah. Ini tempat teraman yang pernah ada di dunia ini. Apa lagi yang kurang? Tak ada! Ia tetap dapat melihat dunia di luar sana dari balik kaca. Ia tetap dapat menikmati indahnya hidup dan bernafas. Ini tempat yang tepat untuk ditinggali. Tak ada bahaya, tak ada suara, tak ada pengganggu dari jenis apapun. Jadi, sempurna kan?

Sempurna. Iya. Jauh dari cukup. Ia tak pantas berharap lebih dari ini.

Pada malam-malam yang dingin terkadang ia terjaga, menuruni tangga-tangga batu dalam kastil kaca-nya, ia mendengar suara-suara. Apa kunang-kunang dapat bernyanyi? Ia menempelkan tangannya ke dinding kaca yang terasa dingin pada telapak tangannya yang hangat, menatap jauh keluar sana. Gelap, tapi ada banyak cahaya indah berkelap-kelip. Saat ia menengadah, bintang-bintang bersinar terang, bagai titik-titik berlian yang berkilauan, menggodanya untuk pergi keluar sana. Memang mereka penggoda yang hebat. Sesekali keinginan untuk lari dari tempat ini muncul dalam benaknya. Ia sering bermimpi tentang desau angin di antara daun-daun. Benarkah mereka sedang bercerita satu sama lain? Dongeng apa yang saling mereka bisikkan? Dan... ia dengar ada kelinci di bulan, benarkah? Apa warnanya? Putih? Kuning? Atau merah muda?  

Luna selalu memiliki banyak pertanyaan dalam kepalanya, tapi tak pernah memiliki keinginan yang cukup kuat untuk mencari jawabannya. Untuk apa? Dunianya sudah cukup sempurna. Ia tak perlu mencari apa-apa di luar sana, di dunia asing yang tak dikenalnya. Mungkin segala sesuatu awalnya tampak menarik dari balik kaca yang mengurung hari-harinya ini, tapi mungkin juga, hal-hal menarik mengandung banyak bahaya yang tak terduga. Ia tak bisa mengambil resiko apapun. Hidup ini singkat dan ia dapat menikmatinya dengan tenang di balik dinding kacanya.

Sebenarnya, ada satu harapan kecil yang selalu disimpannya. Harapan yang sangat kecil sampai-sampai kadang ia sendiri lupa bahwa harapan itu ada. Harapan ditemukan oleh pangerannya.

Luna tak pernah tahu siapa nama laki-laki itu, tapi ia memiliki sebuah lukisan takdir. Lukisan itu tergantung di berbagai tempat dalam kastil kacanya. Lukisan seorang pangeran berwajah sedih yang terjebak dalam dunia kegelapan. Bagaimana ia akan menemukanku jika ia sendiri tak dapat menemukan dirinya? Begitu Luna selalu bertanya-tanya. Ia tak pernah berharap banyak pada pangeran dalam lukisan itu. Bagaimana pun itu hanyalah lukisan. Apapun bisa salah di dunia ini. Lagi pula, takdir ditentukan oleh setiap langkah yang diambil. Bagaimana jika pangerannya hanyalah seorang laki-laki bodoh yang gemar tersesat lalu mati di salah satu lembah di bulan ini karena kelaparan? Ia tak ingin terlalu berharap pada apapun di luar sana.

Setidaknya begitulah jalan fikirannya sampai hari itu, sebelum segala keanehan mulai terjadi, mengusik segala ketenangan dan menggetarkan setiap permukaan kastil kaca-nya.
Apa gerangan yang dapat begini mengganggu dunianya?

Malam itu, ia berlari turun dari tempat tidurnya yang hangat, bertelanjang kaki menuruni setiap anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia merasakannya, kehadiran sesuatu yang asing di sekitar dunianya. Ia tak dapat memastikannya, apakah itu ‘sesuatu’, atau ‘seekor’, atau ‘seseorang’. Satu hal yang dapat ia pastikan adalah, ada hal yang asing yang sedang menyelimuti dunianya, yang tak pernah ditemuinya selama ini, dan hal ini begitu mengusik, memaksanya keluar.

Luna tahu ia tak mungkin melakukan itu. Ia tak boleh keluar dari dunianya yang aman. Antara rasa takut dan penasaran, ia berdiri, persis berhadapan dengan pintu utama dunianya. Pintu itu besar, terbuat dari kaca buram tebal berukiran rumit, dan lubang kuncinya berderet dari atas hingga bawah daun pintu. Semua terkunci rapat. Belum cukup dengan semua itu, masih ada gagang kedua daun pintu yang saling terbelit oleh rantai besar yang digembok dengan ratusan gembok. Ia tak mungkin bisa keluar.

Dengan kesal, Luna memukulkan telapak tangan kecilnya pada daun pintu. Sial. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia akan mengetahui apa yang begitu mengganggu dunianya jika ia tak bisa memeriksa keadaan di luar? Lama, ia berdiri di sana, menyandarkan kepalanya pada daun pintu kaca yang dingin, bisu, tapi masih menyimpan getar pelan dalam dinding-dinding kacanya, getar yang datang mengusik dari luar dunianya. Ia kecewa tak dapat berbuat apa-apa. Tak ada jalan.

Saat ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan mengacuhkan gangguan itu, matanya menangkap bayangan samar di depan pintu kacanya yang buram dan tebal. Apa itu? Bayangan itu bergerak, mendekati pintu. Ketakutan mulai muncul, menyelinap pelan ke dalam hatinya. Apa yang sangat memungkinkan akan datang menghampiri dunianya?

Jantungnya berdegup kencang sementara matanya masih terpaku dengan gerak samar di depan pintunya. Luna, dengan jari-jarinya yang gemetar karena gugup, menempelkan tangannya di daun pintu, mendekatkan telinganya ke celah super sempit di antara kedua daun pintu. Apa ia akan mendengar sesuatu? Detik-detik berlalu, sejauh ini yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri.

“Hei,” tiba-tiba sebuah suara menyapanya, tepat berasal dari bagian luar pintunya. Suara yang jernih, pasti, dan begitu hidup. Luna hampir terjatuh karena terkejut. Jantungnya berdetak sangat kencang. Mungkinkah itu bisikan angin? Tidak, tidak! Ia memang tak pernah keluar untuk sekedar mendengar dongeng angin kepada pepohonan, tapi ia cukup yakin di bulan tak pernah ada suara seperti ini. Ini jelas sesuatu, atau seekor atau yang paling ia takuti, seseorang yang sangat asing.

“Hei, jangan takut...” suara itu melunak, tapi tetap saja menghadirkan ketakutan ke dalam hati Luna. Bagaimana mungkin suara itu begitu lancang, menyuruhnya untuk tidak takut, sementara ia telah memberi gangguan yang begitu meresahkan dinding-dinding kacanya?!

“Kau ini...apa?” Luna, dengan suaranya yang lirih, bergetar takut, mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Ah, sudah berapa lama ia tak menggunakan suaranya? Kini ia merasa asing ketika mendengar suaranya sendiri.

“Aku...bukan ‘sesuatu’ dan bukan pula ‘seekor’. Aku ‘seseorang’,” jawab suara itu, seolah dapat membaca fikiran Luna, ia memberikan Luna sebuah jawaban yang diinginkannya.

Ya, entah bagaimana, Luna mengharapkan suara itu adalah suara seseorang, padahal beberapa detik sebelumnya ia sendiri sangat yakin, hal yang paling ditakutinya di dunia ini adalah kehadiran seseorang yang asing ke dalam dunianya. 

Minggu, 29 Maret 2015

Tiba-Tiba

Dear Moony,
Tahun ini sudah berjalan hampir tiga bulan...  Ahh, apa saja yang sudah kulakukan sejauh ini? Resolusi tampaknya tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Obat-obatan terabaikan. Makan junk food semena-mena. Tidur malam hampir tidak pernah! Mau jadi apa aku ini?
Well, banyak yang tak terduga yang terjadi. Funny how life can be so surprising.

Tiba-tiba pengiriman paket kartu pos-kartu pos dari China ke Indonesia datang terlambat semua.
Tiba-tiba teman terbaik menikah dalam waktu dekat.
Tiba-tiba pengeluaran untuk pembelian buku-buku (pribadi) membengkak 100% mulai Januari.
Tiba-tiba aku merasa lelah dan kehilangan fokus karena semua ketiba-tibaan ini.

Hufftthh...
Bila waktu bisa berhenti sebentar saja, aku ingin istirahat sejenak, melarikan diri, keluar dari semua kerumitan ini. Mungkin berlibur ke sebuah desa terpencil dengan pantai yang bersih, menikmati aroma air laut, langit biru, dan tiupan angin. Ah, di mana tempat macam itu??? Atau...nggak usah jauh-jauhlah, mungkin ke Bandung saja, dari dulu aku berniat ingin menghabiskan liburan di kebun strawberi, belum kunjung terlaksana...

Time runs fast.

Days pass away.

Pada akhirnya, khayalan-khayalan rencana berlibur yang begitu ‘fantastis’ itu kandas, hilang entah kemana. Hari-hari bersantai akhirnya tetap di antara tempat tidur, laptop, junk food, dan setumpuk buku. Oh, bukan setumpuk, tapi sekamar! Ya, sekamar buku! Aku menimbun buku seperti ular boa menyantap makanan besar sebelum hibernasi yang panjang. Ya, itu dia liburanku. Masuk ke buku A, keluar, pindah ke buku B, keluar, lalu masuk ke buku C, begitu seterusnya. Buku-buku selalu menghibur, tapi di luar itu, rutinitas tetap terasa begitu menjemukan, sampai aku merasa akan mati saking bosannya!!! Apa sudah ada record untuk orang yang mati karena terlalu bosan???

However, life must go on.

Untungnya, walaupun penjualan kartupos tersendat-sendat, pemasukan dari penjualan buku berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Pemasukan yang signifikan ini ternyata juga berujung pada buku! Hahaha. Yeaahh!!! Lagi-lagi aku belanja buku seprti orang kesetanan. Sebenarnya, apa yang sedang merasukiku? Kurasa, bulan depan aku harus mulai mendata setiap ‘cemilan’ buku yang kubeli, setidaknya aku bisa melihat seberapa dahsyatnya aku bisa menghabiskan uangku untuk menimbun buku di kamar.

Di tengah semua kegalauan ini, aku menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang mengusik ketenangan duniaku. The Glass World sejauh ini damai, tersembunyi, terasing, jauh dari jangkauan siapapun. Belakangan aku merasa ada hal-hal kecil aneh yang tengah terjadi di dalam sini. Apa ya? Nggak mungkin kan ada yang bisa masuk? Well, sebagian kecil orang mungkin masih bisa melihatnya, tapi ini adalah The Glass World – Dunia Kaca, I don’t let anyone in! Jadi, bagaimana mungkin akhir-akhir ini aku merasa begitu kosong, melayang-layang, memikirkan apa yang mungkin tengah masuk diam-diam ke dalam duniaku...

Beberapa orang memberi jawaban alternatif : Cinta? Entahlah. Aku ragu. Kata itu terasa begitu asing dan norak. Mendengarnya saja aku malu setengah mati! Geli! Mungkin karena sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak jatuh cinta pada manusia. Terakhir kali aku jatuh cinta adalah pada salah satu karakter di novel berjudul Abarat yang ditulis oleh Clive Barker (satu lagi novel bergenre fantasi yang membuatku tergila-gila). Aku lupa kapan aku membacanya, mungkin awal Februari lalu. That was really a great book! Lalu, mau kita sebut apa perasaan ini? Datangnya begitu tiba-tiba dan ikut mengalihkan fokusku yang sudah berantakan dalam beberapa bulan ini. Ah, aku tidak bermaksud puitis. Well, kalau begitu, biarkan saja waktu yang menjawabnya! Haha.

Dengan semua ketiba-tibaan ini, aku merasa begitu...ceroboh, tidak teratur, dan tanpa konsentrasi. No way! Ini bukan gue banget! Bulan depan, aku sudah harus mengemas kembali hidupku, menata kembali perasaan dan fikiranku ke tempatnya semula (yang tampaknya mulai terbang ke hal-hal yang absurd). Fine, itu saja catatan penting  di akhir bulan ini. Aku harus bangun kembali bulan depan! C’mon!

    


Jumat, 20 Maret 2015

Monolog : tentang Hasrat dan Hidup

Hari-hari cepat berlalu ya... I'm getting older eventually...
Siklus berjalan, semua berubah, segala sesuatu berganti.

Kalau melihat ke belakang, ternyata banyak hal yang dulu ada, sekarang hilang, atau, yang dulu tak ada, sekarang menjadi ada. Jika saja Allah tak memberikan janji-janjinya, barangkali aku sudah lama terjebak dalam suatu waktu di masa lalu...

Tentu saja, kalau boleh memilih, manusia pasti memilih apa yang dia sukai, mengutamakan egonya, bahkan untuk hal yang tak masuk di akal, tapi pada akhirnya, Allah juga yang menentukan, apa yang pantas dan tidak pantas didapatkan seseorang. Barangkali bukan perihal pantas dan tidak pantas, tapi tentang takdir : apa yang memang diciptakan untukmu dan apa yang bukan.

Harta.
Kedudukan.
Cinta.
Umur panjang.
Rasanya itu-itu saja yang difikirkan manusia.

Aku sendiri, cenderung tenggelam dalam buku-buku, tempat yang aman untuk bersembunyi dan menghindari memikirkan hal-hal monoton itu. Bukannya tak baik bersikap manusiawi dan memikirkan hal-hal duniawi...tapi, barangkali aku saja yang sedang lelah mengamati dunia...seolah semua orang berlomba dan aku duduk diam menonton mereka. Aiih...seperti boneka saja!
Mmm...tidak, mungkin bukan boneka, mungkin zombi? Makhluk yang bergerak, tapi pada dasarnya sudah mati. Ahh, kesannya aku jadi orang yang tak ingin hidup lagi. Tidak, bukan begitu juga. Aku sendiri bahkan kesulitan mendeskripsikan diriku sendiri. Sudahlah, abaikan saja.

Aku masih hidup, sampai detik ini, belum ingin mati.
Bukan takut mati juga,
Aku tidak takut mati,
Aku takut hidup sia-sia.

Sebenarnya, pertanyaan pentingnya bukanlah 'seberapa lama kita hidup?',
tapi 'seberapa banyak kita telah memberi manfaat pada kehidupan?'

Jadi, tidak perlu dikeluhkan apa yang mungkin dulu kamu miliki atau tidak kamu miliki. Cukuplah apa yang Allah berikan, mungkin malah lebih dari cukup. Tak perlu kecewa atau mencari-cari yang tak ada, Allah tau porsi yang paling tepat untukmu.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216)

Jadi, jalanilah hidupmu. Coba melihat sisi baiknya, seburuk apapun, semembosankan apapun hidup yang kamu jalani. Bisa jadi, itu memang yang terbaik untukmu.