Aku gadis biasa, Kawan.
Bukan seorang relawan kemanusiaan,
Bukan juga tentara yang melangkah tegar di medan peperangan.
Aku hanyalah seorang gadis penuh keresahan,
Akan penderitaan dan sayatan,
Pada hati-hati saudara-saudaraku yang lemah dan tak dapat melawan;
Akan keegoisan dan keangkuhan,
Pada hati kawan-kawanku yang tertidur, makmur dalam semunya
kemewahan.
Sungguh, aku hanya gadis biasa yang diliputi kegundahan,
Sekali waktu ingin sekali mereka kubangunkan,
Mungkin aku akan meneriakkan kata-kata sok pahlawan,
“HEY, APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN?
DUNIA INI PENUH KERUSAKAN DAN KEPEDIHAN, KAWAN!”
…..
Mereka tetap nyenyak,
Tak bergerak,
Hanyut dalam buaian angan.
Kawan, aku benar-benar gadis biasa yang hatinya dipenuhi
kegelisahan.
Kamu telah lama tenggelam dalam indahnya khayalan-khayalan,
Tidakkah kamu bosan?
Tidakkah kamu ingin sebentar saja mendengarkan?
Kalau kamu fikir hidupmu sulit,
Coba bayangkan mereka yang tinggal di Palestina
Yang bersembunyi di lorong2 sempit,
Rumah tak ada, listrik tak ada,
Makanan, uang, pakaian, semua diirit,
Tapi anak-anak tetap disekolahkan juga,
Dan al-quran tak pernah lupa mereka baca,
Walau dalam malam-malam dingin dengan cahaya pelita.
Kalau kamu fikir dirimu sangat menyedihkan,
Cobalah ingat-ingat mereka yang tak punya uang untuk makan,
Dari tukang sampah, supir angkot, pedagang sayur, hingga
kuli bangunan,
Mana yang lebih patut menerima rasa kasihan?
Oke, kalau kau fikir kamu sangat galau,
Ditinggal kekasih hingga menderita dan kacau,
Nyalakan Tv dan lihat saudara-saudara kita yang tak bisa
minum di musim kemarau,
Anak-anak kecil kelaparan, kekeringan, mengisak dengan suara
parau,
Jadi, siapa yang lebih layak meracau galau?
Di media sosial kamu berkoar tentang cinta dan hati yang
merana,
Kalau kamu mau sedikit SAJA melihat dunia,
Kamu akan tau siapa sebenarnya yang lebih sengsara.
Kamu akan tau siapa yang jauh lebih pantas meneriakkan duka,
Jika saja mereka memiliki akun path, facebook twitter dan
semua yang kamu punya,
Dapatkah kamu bayangkan status apa yang akan kamu baca di
timeline mereka?
Dapatkah kamu membuka mata menyaksikan kengerian foto-foto
pembantaian di luar sana?
Dapatkah kamu ikut merasakan setiap kesusahan dan luka yang
mereka keluhkan di media?
Benar, kamu pasti akan ternganga,
Karena selama ini hatimu buta,
Disilaukan oleh kenyamanan duniamu yang fana.
Baiklah…
Aku mungkin hanya gadis biasa yang pandai berkata-kata…
Kalau kamu berfikir setiap frasa ini hanya bualan semata,
Kalau kamu berfikir kalimat-kalimat ini hanya ocehan
emosinal seorang gadis gila,
Maka pastilah hatimu memang sudah tak berfungsi sebagaimana
seharusnya,
Pastilah jiwamu seperti karat di atas besi tua:
Tumpul, tak bernyawa, tak berguna,
Tinggal menunggu binasa!!!