Minggu, 29 Maret 2015

Tiba-Tiba

Dear Moony,
Tahun ini sudah berjalan hampir tiga bulan...  Ahh, apa saja yang sudah kulakukan sejauh ini? Resolusi tampaknya tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Obat-obatan terabaikan. Makan junk food semena-mena. Tidur malam hampir tidak pernah! Mau jadi apa aku ini?
Well, banyak yang tak terduga yang terjadi. Funny how life can be so surprising.

Tiba-tiba pengiriman paket kartu pos-kartu pos dari China ke Indonesia datang terlambat semua.
Tiba-tiba teman terbaik menikah dalam waktu dekat.
Tiba-tiba pengeluaran untuk pembelian buku-buku (pribadi) membengkak 100% mulai Januari.
Tiba-tiba aku merasa lelah dan kehilangan fokus karena semua ketiba-tibaan ini.

Hufftthh...
Bila waktu bisa berhenti sebentar saja, aku ingin istirahat sejenak, melarikan diri, keluar dari semua kerumitan ini. Mungkin berlibur ke sebuah desa terpencil dengan pantai yang bersih, menikmati aroma air laut, langit biru, dan tiupan angin. Ah, di mana tempat macam itu??? Atau...nggak usah jauh-jauhlah, mungkin ke Bandung saja, dari dulu aku berniat ingin menghabiskan liburan di kebun strawberi, belum kunjung terlaksana...

Time runs fast.

Days pass away.

Pada akhirnya, khayalan-khayalan rencana berlibur yang begitu ‘fantastis’ itu kandas, hilang entah kemana. Hari-hari bersantai akhirnya tetap di antara tempat tidur, laptop, junk food, dan setumpuk buku. Oh, bukan setumpuk, tapi sekamar! Ya, sekamar buku! Aku menimbun buku seperti ular boa menyantap makanan besar sebelum hibernasi yang panjang. Ya, itu dia liburanku. Masuk ke buku A, keluar, pindah ke buku B, keluar, lalu masuk ke buku C, begitu seterusnya. Buku-buku selalu menghibur, tapi di luar itu, rutinitas tetap terasa begitu menjemukan, sampai aku merasa akan mati saking bosannya!!! Apa sudah ada record untuk orang yang mati karena terlalu bosan???

However, life must go on.

Untungnya, walaupun penjualan kartupos tersendat-sendat, pemasukan dari penjualan buku berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Pemasukan yang signifikan ini ternyata juga berujung pada buku! Hahaha. Yeaahh!!! Lagi-lagi aku belanja buku seprti orang kesetanan. Sebenarnya, apa yang sedang merasukiku? Kurasa, bulan depan aku harus mulai mendata setiap ‘cemilan’ buku yang kubeli, setidaknya aku bisa melihat seberapa dahsyatnya aku bisa menghabiskan uangku untuk menimbun buku di kamar.

Di tengah semua kegalauan ini, aku menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang mengusik ketenangan duniaku. The Glass World sejauh ini damai, tersembunyi, terasing, jauh dari jangkauan siapapun. Belakangan aku merasa ada hal-hal kecil aneh yang tengah terjadi di dalam sini. Apa ya? Nggak mungkin kan ada yang bisa masuk? Well, sebagian kecil orang mungkin masih bisa melihatnya, tapi ini adalah The Glass World – Dunia Kaca, I don’t let anyone in! Jadi, bagaimana mungkin akhir-akhir ini aku merasa begitu kosong, melayang-layang, memikirkan apa yang mungkin tengah masuk diam-diam ke dalam duniaku...

Beberapa orang memberi jawaban alternatif : Cinta? Entahlah. Aku ragu. Kata itu terasa begitu asing dan norak. Mendengarnya saja aku malu setengah mati! Geli! Mungkin karena sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak jatuh cinta pada manusia. Terakhir kali aku jatuh cinta adalah pada salah satu karakter di novel berjudul Abarat yang ditulis oleh Clive Barker (satu lagi novel bergenre fantasi yang membuatku tergila-gila). Aku lupa kapan aku membacanya, mungkin awal Februari lalu. That was really a great book! Lalu, mau kita sebut apa perasaan ini? Datangnya begitu tiba-tiba dan ikut mengalihkan fokusku yang sudah berantakan dalam beberapa bulan ini. Ah, aku tidak bermaksud puitis. Well, kalau begitu, biarkan saja waktu yang menjawabnya! Haha.

Dengan semua ketiba-tibaan ini, aku merasa begitu...ceroboh, tidak teratur, dan tanpa konsentrasi. No way! Ini bukan gue banget! Bulan depan, aku sudah harus mengemas kembali hidupku, menata kembali perasaan dan fikiranku ke tempatnya semula (yang tampaknya mulai terbang ke hal-hal yang absurd). Fine, itu saja catatan penting  di akhir bulan ini. Aku harus bangun kembali bulan depan! C’mon!

    


Sabtu, 28 Maret 2015

Mimpi, Harapan.

Apa yang membuat manusia bertahan hidup?
Apa yang dilakukan manusia untuk bertahan hidup?


Harap. Harapan. Berharap.
Mimpi. Impian. Bermimpi.

Jumat, 20 Maret 2015

Monolog : tentang Hasrat dan Hidup

Hari-hari cepat berlalu ya... I'm getting older eventually...
Siklus berjalan, semua berubah, segala sesuatu berganti.

Kalau melihat ke belakang, ternyata banyak hal yang dulu ada, sekarang hilang, atau, yang dulu tak ada, sekarang menjadi ada. Jika saja Allah tak memberikan janji-janjinya, barangkali aku sudah lama terjebak dalam suatu waktu di masa lalu...

Tentu saja, kalau boleh memilih, manusia pasti memilih apa yang dia sukai, mengutamakan egonya, bahkan untuk hal yang tak masuk di akal, tapi pada akhirnya, Allah juga yang menentukan, apa yang pantas dan tidak pantas didapatkan seseorang. Barangkali bukan perihal pantas dan tidak pantas, tapi tentang takdir : apa yang memang diciptakan untukmu dan apa yang bukan.

Harta.
Kedudukan.
Cinta.
Umur panjang.
Rasanya itu-itu saja yang difikirkan manusia.

Aku sendiri, cenderung tenggelam dalam buku-buku, tempat yang aman untuk bersembunyi dan menghindari memikirkan hal-hal monoton itu. Bukannya tak baik bersikap manusiawi dan memikirkan hal-hal duniawi...tapi, barangkali aku saja yang sedang lelah mengamati dunia...seolah semua orang berlomba dan aku duduk diam menonton mereka. Aiih...seperti boneka saja!
Mmm...tidak, mungkin bukan boneka, mungkin zombi? Makhluk yang bergerak, tapi pada dasarnya sudah mati. Ahh, kesannya aku jadi orang yang tak ingin hidup lagi. Tidak, bukan begitu juga. Aku sendiri bahkan kesulitan mendeskripsikan diriku sendiri. Sudahlah, abaikan saja.

Aku masih hidup, sampai detik ini, belum ingin mati.
Bukan takut mati juga,
Aku tidak takut mati,
Aku takut hidup sia-sia.

Sebenarnya, pertanyaan pentingnya bukanlah 'seberapa lama kita hidup?',
tapi 'seberapa banyak kita telah memberi manfaat pada kehidupan?'

Jadi, tidak perlu dikeluhkan apa yang mungkin dulu kamu miliki atau tidak kamu miliki. Cukuplah apa yang Allah berikan, mungkin malah lebih dari cukup. Tak perlu kecewa atau mencari-cari yang tak ada, Allah tau porsi yang paling tepat untukmu.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216)

Jadi, jalanilah hidupmu. Coba melihat sisi baiknya, seburuk apapun, semembosankan apapun hidup yang kamu jalani. Bisa jadi, itu memang yang terbaik untukmu.