Sabtu, 06 Juni 2015

Para Sahabat Langit

May 28, 2015 at 9:44pm

Aku tak pernah benar-benar mengingat, sejak kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta kepada langit dan isinya. Kata orang, cinta bukan sesuatu yang kita rencakan atau kita atur. Ia hadir begitu saja, tanpa butuh alasan, tanpa ada perkiraan waktu. Begitulah kekagumanku ketika menatap langit. Kekaguman yang tiba-tiba sudah ada dan tumbuh di dalam hati, tanpa aku sadari kapan atau bagaimana munculnya.

Satu hal paling indah tentang langit adalah, aku selalu bisa menatapnya dalam perasaan apapun, dan hal itu selalu menjadi terapi hati terbaik untukku ketika gundah. Menatap langit membuatku merasa begitu kecil dan tak berarti. Rasanya aku seperti serpih debu kecil di tengah hingar bingar dunia. Kadang aku membayangkan, Allah sedang balas menatapku dari atas sana. Apa yang mungkin Dia katakan ketika melihat tingkah konyolku?

"Hei, gadis kecilku, kenapa kau berjalan dengan kepala menengadah seperti itu? Awas, jangan sampai tersandung!" mungkin begitu.

Hahaha, aku memang suka melakukannya saat kecil dulu. Ada begitu banyak cerita tentang langit di masa kecilku, dan hebatnya, semuanya selalu terasa indah untuk dikenang kembali.

Malam-malam musim kemarau di tahun-tahun masa kecilku terasa begitu hangat. Langit di hari itu terlihat jauh lebih jernih. Aku paling senang berjalan kaki di malam hari, atau naik sepeda bersama Bapak. Kalau lelah berjalan, aku selalu meminta Bapak untuk menggendongku. Udara malam tak pernah terasa terlalu dingin. Aku selalu antusias ketika melihat sekelompok besar kunang-kunang yang berkelap-kelip cantik pada sebatang pohon atau pada rumpun semak-semak. Aku tak perrnah bosan melihatnya. Bahkan sampai sekarang, aku masih saja takjub ketika menemukan pohon penuh kunang-kunang. Aku suka melihat cahaya-cahaya kecilnya berkelip dalam kegelapan. Indah. Mirip bintang-bintang di langit. Kalau kita menatap sebuah bintang dengan fokus, pasti ia terlihat seolah sedang berkelip juga. Karena aku suka bintang-bintang, dinding ruang tamu akhirnya kupenuhi dengan gambar bintang. Aku menggambarnya dengan spidol berwarna-warni pula! Great! Masa kecilku kreatif tanpa batas, hahaaha...

Langit gelap menyembunyikan banyak cerita. Ada malam ketika aku bermain boneka kertas hingga larut, bersama sahabat masa kecilku. Ada malam ketika kami sekeluarga mengunjungi Medan Fair. Stan lempar gelang, wahana bianglala, lampu-lampu neon kecil berkelip warna-warni, semuanya menyenangkan. Ada juga suatu malam ketika aku menangis frustrasi karena tak bisa mengerjakan PR matematika pertamaku. Bapak, dialah pahlawan yang menyeka tangis si little princess.

Saat pertama kali mendapat pelajaran IPA, aku bersemangat sekali ketika kelasku memasuki bab tentang tata surya. Belajar tentang meteor, planet, matahari, bulan, satelit, dan benda-benda langit lainnya benar-benar membuatku bahagia. Aku ingat, hampir setiap halaman bab tata surya itu kuberi tanda dengan highlight color. Itu kulakukan karena sulit sekali bagiku memikirkan bagian mananya yang tidak penting. Semua kalimat terasa sangat penting untukku!

Langit. Oh, langit.

Aku ingat suatu pagi dengan langit yang sangat indah. Saat dunia menjemput sang bola cahaya yang hangat, langit yang gelap berubah dan mulai bercampur warna dengan biru, merah muda, violet, dan sedikit jingga. Di timur, selalu ada satu bintang paling besar yang selalu kuamati. Kejora. Disebut juga planet Venus. Dia selalu berkilau cemerlang, bagai berlian yang melayang tinggi di angkasa. Aku mengaguminya sepenuh hati, dan bahagia sekali ketika aku mulai menghafal lirik lagu "Bintang Kejora".

Pagi-pagi Ramadhanku di masa kecil, adalah pagi ketika adzan dari masjid terdengar begitu jelas, begitu jernih membelah heningnya fajar yang pelan-pelan menyelimuti langit gelap. Luna kecil bangun penuh semangat, mengambil wudhu lalu berjalan ke masjid yang hanya berjarak lima rumah dari rumahnya. Pagi-pagi yang kosong bisu terisi dengan tawa dan celotehnya bersama teman-teman mungilnya. Ia, Luna selalu punya banyak teman. Hihi, aku selalu salut dengan jiwa masa kecilku. Little Luna, where are you? Dia adalah gadis kecil tangguh, loveable, penuh semangat, tak pernah takut dengan kekalahan. Ia bahkan tak pernah mengenali bacaan-bacaan sholat, tetapi "jiwa mesjid"-nya mengalahkan para pria. Ahahaha.

Walau waktu terus berjalan, langit tak banyak berubah ketika aku mulai remaja. Itu adalah hari-hari ketika Luna kecil kehilangan kepercayaan diri. Aku sangat paham apa dirasakannya. Sendirian. Kesepian. Tak ada yang memahaminya. Ia tak punya teman, bukan karena tak ingin berteman. Dunianya berubah. Terbalik sepenuhnya. Ia berusaha keras untuk masuk dan terbiasa, tapi ternyata sulit sekali. Gadis-gadis kecil di sekelilingnya berubah menjadi wanita-wanita pencinta harta. Di sudut-sudut kelas selalu ada ajang pamer gelang terbaru, style rambut terbaru, baju terbaru, dan macam-macam lagi yang terbaru. Sekolah berubah menjadi panggung catwalk. Gap terbentuk dengan mudah. Luna kecil tak bisa masuk ke geng cewek yang manapun. Ia terbuang. Kasihan. Ketika keluarganya pindah ke rumah baru bertingkat dua, di sana ia kembali mengadu kepada langit setiap malam. Mengamati yang mana satelit dan yang mana meteor... Menempelkankan banyak gambar planet-planet dan bulan di dinding kamar barunya... Mempelajari mitos-mitos Yunani kuno tentang dewa dewi yang namanya dijadikan nama-nama planet... Bahkan, mengawali menulis diary dengan kata "Dear Stary Sky."

Begitulah. Langit dan para sahabatnya menjadi teman sepanjang hidupku. Ketika aku mulai rajin membaca Al-Qur'an, aku bangga sekali menemukan bahwa namaku merupakan nama dari salah satu ayat suci di sana : Al-Qomar, yang berarti bulan. Aku dulu bertanya-tanya, jika aku jadi bulan, lalu dimana keluargaku?

Aku pernah membuat sebuah pengandaian. Langit adalah Bapak, karena ia memeluk seisi dunia. Matahari adalah ibuku, karena ia hangat dan menghangatkan siapa saja. Adik pertamaku adalah venus, karena ia cantik, sensitif, dan feminin. Merkurius adalah adik kecilku, karena ia tangguh tapi teramat manja, letaknya dekat dengan ibuku, matahari. Jadi, kenapa aku harus bulan? Karena aku mendapatkan sinarku dari ibuku. Sinarnya membuatku bertahan dalam kegelapan. Hihi, Luna kecil suka berandai-andai.

I wonder, where is that little loveable girl? The sky is missing her...

Mungkin, dia di bulan.

Harga

May 27, 2015 at 10:24pm

Harga berarti nilai suatu barang, begitulah pengertian sederhananya, menurutku. Kayaknya aku harus mencari makna spesifiknya di KBBI. Oke. Kapan-kapan.

Well, I'm wondering.... Seringkali.... Jika diriku ini diberi harga yang sesuai, aku akan dihargai berapa oleh manusia? Adakah yang berfikir aku layak dibeli? Dimiliki?

Merasa berharga karena dihargai itu ternyata menyenangkan. Aku tak pernah tau dan tak pernah begitu peduli. Selama ini, aku selalu melakukan apa yang menyenangkan hatiku, tanpa pernah berfikir, bahwa setiap sikapku, kata-kataku, diriku, juga memiliki harga di mata orang lain.

Aku ingat, pernah sekali waktu merasa begitu berharga. Perasaan berharga itu ternyata menimbulkan kekuatan tersendiri di dalam hati. Ketika aku merasa keberadaanku cukup berarti untuk orang lain, aku merasa lebih berguna, lebih bermakna, lebih kuat. Rasanya tak ada yang tak bisa kulakukan.

Di suatu waktu, nanti, pada saat yang tepat, aku ingin Tuhan mengirimiku perasaan macam itu. Lagi. Aku ingin menjadi sosok yang berarti bagi seseorang. Aku ingin merasa berharga karena aku punya nilai tersendiri bagi seseorang. Aku ingin dihargai dengan harga yang pantas. Bukankah menyenangkan, jika kehidupan kita yang sebentar ini, ternyata punya makna yang dalam untuk orang lain?

Terlalu Banyak Rindu

May 28, 2015 at 2:40am

Beberapa malam ini aku kembali insomnia. Cuma ada dua hal yang selalu kulakukan ketika tidak tidur : membaca dan menulis. Bukan CaLisTung, itu kerjaan anak SD :D Sekali membaca, aku betah membaca berjam-jam sampai pagi, apalagi saat tengah malam begini, suasana sepi dan tenang, otak jernih, asik banget buat membaca atau menulis cerpen. Sudah satu bulan ini, aku terus berlatih menulis. Kadang-kadang frustrasi juga ketika menyadari ternyata ceritaku terlalu kaku dan mind-logic-nya nggak mantep. Berharap bisa menjerit di saat-saat buntu seperti itu. Sedepresi-depresinya, sejauh ini aku belum berniat berhenti menulis. Bisa dibilang, menulis adalah hal yang paling kurindukan dan paling ingin aku lakukan sepanjang tahun ini. Sedih, teringat saat-saat SD ketika aku semangat sekali menuliskan apa saja. Tidak pernah berhenti berjuang walau tulisanku beberapa kali nggak published di majalah anak-anak waktu itu. Semangat membara itu, kemana hilangnya selama tahun-tahun yang telah terlewati tadi? Aku tak habis pikir. Saat SMP, aku ingat sekali, aku pernah membuat cerita bersambung lengkap dengan ilustrasinya. Aku menuliskannya di sebuah buku tulis khusus. Teman-temanku selalu menjadi pembaca setia yang menanti-nanti kelanjutan ceritaku. Selain itu, aku juga ingat bagaimana serunya menulis mading bersama teman-teman. Kadang-kadang aku mendapat tugas menulis, kadang membuat ilustrasi. Aku nggak pernah bosan mengirim puisi-puisi cupu-ku ke berbagai majalah anak-anak dan remaja. Saat itu, sebagai gadis kecil yang terlalu asik dengan dunianya sendiri, entah kenapa aku nggak pernah kekurangan ide untuk menulis. Selalu ada yang kutulis. Paling bahagia saat dapet honor dari majalah. Rasanya kayak habis dikasih harta karun. Hahhah. Asik yaa. Kenapa baru sekarang aku merindukan saat-saat itu? Rindu itu rasanya sakit. Sekarang, walaupun aku mulai menulis lagi, tapi rasanya nggak sama seperti dulu. Mungkin karena aku terlalu lama vacuum menulis ya? Entahlah...tapi karna rindu, makanya sekarang aku menulis hampir setiap hari. Seolah-olah setiap tulisan itu berbisik padaku, "jangan tinggalkan aku lagi..." ^_^ Aku akan terus belajar, insyaa Allah.

Salah satu orang terbaik yang menyemangatiku untuk menulis adalah Lit-D. Oh D, I'm really missing you... Jika ada orang yang paling ingin kutemui saat ini, orang itu adalah dia. Teman terbaik, teman paling sabar, teman yang paling menyayangiku. Terlalu banyak kata tentang kebaikannya. Dia seperti seorang kakak berhati tangguh. Tidak satupun saat-saat bersamanya yang bisa kulupakan. Aku rindu hari-hari ketika kami berjalan kaki di bawah rindangnya pohon-pohon, menuju Masjid Kampus UGM, berdua, penuh cerita sepanjang jalan. Aku rindu saat-saat ketika kami mengendap-endap di depan kantor jurusan, menghindari dosen pembimbing kami yang beraura kutub utara, hahhah. Lit-D, aku berharap akan datang hari-hari ketika kita tertawa bersama lagi. Walaupun sekarang semuanya sudah tak sama lagi, aku yakin perasaanku tentangmu akan tetap sama sampai kapanpun. I miss you... *crying*

Dan sekarang Ramadhan semakin mendekat. Daftar kerinduanku bertambah banyak. Sekali lagi, rindu itu rasanya sakit. Bikin sesak di dalam dada.

Aku sangat merindukan ibuku. Aku rindu semua tentangnya. Aku rindu caranya mengkhawatirkanku. Aku rindu nada suaranya yang selalu cemas hanya karena aku belum makan siang. Aku rindu setiap rasa masakannya. Aku rindu dengan wajah tegarnya. Ibuku adalah orang paling hebat yang pernah kukenal di dunia ini. Kuharap aku setangguh itu. Aku ingin Tuhan menganugerahiku hati seperti yang dimiliki ibuku. Hati yang selalu menerima segala sesuatu dengan baik. Hati yang selalu memaafkan. Hati yang lembut seperti kapas, tapi juga kokoh seperti karang. Tahun 2014 adalah tahun yang dalam sejarah hidupku, ketika aku sangat amat sering memeluknya. Ketika aku mulai sakit, ibuku selalu terjaga dan memeriksa kondisiku. Dia yang menangis untukku. Dia yang berdoa untukku. Dia yang menguatkan hatiku. Aku sedih melihatnya tidak bahagia. Satu hal yang sangat kuinginkan saat itu, aku ingin Allah beri kesembuhan, hanya agar ibuku tersenyum lagi. Aku tak kuasa saat memandanginya ketika tertidur. Tak terasa, wajah cantiknya mulai menampakkan kerutan halus dan bagian bawah matanya menjadi gelap karena kurang tidur. Hatiku terluka mengamati setiap tanda-tanda kelelahannya. Apa yang sudah kulakukan? Aku menyulitkan orang yang paling mencintaiku, bagaimana mungkin? Sampai saat ini, aku tak pernah tahu apa yang dapat kuberikan untuknya. Jika sampai mati aku tak bisa memberi apa-apa, setidaknya, aku ingin menjadi anak perempuan yang baik untuknya, sampai hari terakhir hidupku. Emak, ini janjiku untukmu : Aku akan selalu berusaha taat pada Allah. Percayalah, sekeras apapun imanku digoda, aku akan berjuang menjadi anak baik untukmu.

Wah, aku menangis ternyata. Hahaha. Dasar cengeng. Ini karena aku sangat merindukannya...

Ramadhan di depan mata. Aku tak sabar. Semoga Allah temukan aku dengan bulan penuh ampunan ini. Dosa-dosaku pasti sudah kembali menumpuk. Aku senang Allah ciptakan satu bulan kesempatan menghapus dosa. Keren aja. Terasa kayak door prize :D Ramadhan di kampung halaman juga mengundang kerinduan. Ramadhan tak pernah terasa sama di setiap kota yang pernah kusinggahi. Tentu saja, Ramadhan paling asik tetaplah Ramadhan yang bersama keluarga. Tiba-tiba, ingat nada suara Nenek ketika membangunkanku sahur saat berlibur di rumahnya beberapa hari. Tuhan, aku merindukan mereka semua. Ramadhan kali ini aku berencana pulang. Selain karena kondisi kesehatan yang tampaknya menurun, juga karena aku ingin menumpahkan semua kerinduanku. Yeah, Home, I'm coming...

Sebenarnya, masih banyak kerinduan-kerinduan lainnya, tapi ini sudah pukul setengah tiga pagi. Aku ingin istirahat sebentar sebelum sholat subuh.

Untuk saat ini, aku belum bisa menulis di blog. Mungkin aku akan melampiaskan keinginan menulisku di sini saja untuk sementara, sampai aku bisa kembali lagi ke blog.

Salam rindu untuk Luna dan teman-teman kelinci di bulan.
xxx!