Cari Blog Ini
Selasa, 28 April 2015
Manusia Berhati Spons
Kamu pernah mendengar tentang orang-orang berhati spons?
Mereka adalah orang yang selalu mengerti dan faham benar akan perasaan seperti itu : antara bersalah, menyesal, kecewa, tapi tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengembalikan keadaan.
Tenang, Allah mengkarunai mereka hati yang dapat menyerap dan menerima apapun dengan baik. Kuah soto, minyak, santan, susu, buih sabun; spons selalu menyerap apapun, lalu yang terakhir, dibilas dengan air bersih. Baik dan buruk meresap dengan sempurna ke tiap pori-porinya, diterima dengan penerimaan yang baik, tanpa terluka.
Kamu tau, spons itu lembut dan fleksibel. Dia tidak akan hancur hanya dengan diremas-remas atau disikapi dengan kasar, kecuali ada yang dengan sengaja berniat menghancurkannya.
Ketidaksengajaan selalu bisa diterima dan dimaafkan. Allah saja mau mengampuni, begitu fikir orang-orang berhati spons ini.
Lalu, kita sebut apa sahabat si spons yang menyesali ketidaksengajaannya itu?
Well, namai saja dia Patrick Star! Bintang laut itu bertekstur kasar dan keras, entah dia faham atau tidak, kepada apa dia merekat. Di luar itu, dia indah, dalam, tenang dan mampu menempel setia dalam waktu lama.di satu karang. Dia tak tau bahwa dia sekeras itu. Dia tidak sengaja. Oke, Patrick, kamu dimaafkan.
Selamat berjuang untuk Spongebob dan Patrick! ^_^
Sabtu, 18 April 2015
Kutipan Kesekian Ratus : Tentang Rindu
Untuk : Pangeranku yang terjebak di dunia kegelapan
Dari : Luna di bulan
"Orang2 yg merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa-doanya menguntai tangga yg indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yg lebih baik"
- Tere Liye -.
Dari : Luna di bulan
"Orang2 yg merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa-doanya menguntai tangga yg indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yg lebih baik"
- Tere Liye -.
Bukan Puisi : Catatan Rasa di Minggu ke 23
Bukankah…
Setiap perasaan cinta
itu seharusnya berakhir bahagia?
Maka…
Aku lebih memilih
menyimpan rindu dan menitipkannya pada Rabbku,
Dari pada harus
mengakuinya lalu kecewa karna tak dapat mempertanggungjawabkannya.
Aku lebih memilih
terluka diabaikan orang yang kusuka,
Dari pada harus menanti
dan mengharapkannya padahal ia tak ada rasa…
Bukankah…
Setiap perasaan cinta
seharusnya berbalas dengan cinta?
Maka…
Aku lebih memilih menahannya
dan menangisinya di depan Tuhanku,
Dari pada harus
mengutarakannya lalu tersakiti karna mendapatinya berbeda isi hati,
Aku lebih memilih
terdiam dalam perih,
Dari pada harus menjalaninya
dengan harapan buta dan tak pernah dipilih.
Bukankan….
Cinta seharusnya
bersama?
Sebaiknya aku memilih
tak terlibat jika tak tau bagaimana akhir ceritanya,
Sebaiknya aku tak
terikat bila bukan dalam ikatan yang membuat Allah ridha.
Walau aku tak kan
dapat melarikan diri dari perasaanku,
Walau ia akan tumbuh
lebih besar seiring waktu,
Biarlah…
Itu urusan Rabbku,
Sesungguhnya Dia yang
berkuasa atas setiap rasa…
Aku memang orang yang
pengecut untuk ukuran manusia,
Aku lebih memilih terluka di awal,
Aku tak punya nyali untuk menyicipi rasa kecewa,
Aku lebih memilih terluka di awal,
Aku tak punya nyali untuk menyicipi rasa kecewa,
Tapi setidaknya,
Aku berusaha keras untuk setia dalam perbuatan
dan kata-kata,
Setia pada takdir
Ilahi yang tak kan lari,
Setia pada janji yang
kuucapkan untuk kehormatan diri,
Dan yang istimewa :
Setia pada seseorang
yang menungguku di ujung cerita.
Ia tak kan membuatku menyesal menantinya,
Karna Allah menjanjikan
kami memilki rasa yang sama,
Maka…
Seperti Ali ra. yang menjemput cinta Fatimah Azzahra,
Seperti Ali ra. yang menjemput cinta Fatimah Azzahra,
Temukan aku segera.
Jumat, 17 April 2015
Suatu Saat
Belum pernah aku berangan
sedalam ini,
Suatu saat ketika pagi
pagi penuh kantuk terasa begitu menyegarkan,
Menggodaku untuk
tersenyum menyambut dunia,
Dengan aroma susu coklat
dan teh hangat yang membangunkan jiwa,
Aku merasa begitu hidup,
Begitu berarti,
Begitu terarah hingga
hatiku penuh,
Menggelembung oleh
bahagia.
Belum pernah aku
berkhayal sejauh ini,
Suatu saat ketika siang siang
kering berdebu terasa begitu damai,
Begitu menenangkan kalbu,
Dengan matahari terik
yang mencerahkan hari,
Aku seolah bersinar
bersamanya,
Bersabar menanti hati-hati
yang pulang dengan lelah tapi ceria,
Bersabar menanti suara
langkah-langkah akrab masuk ke rumah,
Ah, aku akan merasa aman dalam
dekapan kasihnya hingga senja.
Belum pernah aku bermimpi
setinggi ini,
Suatu saat ketika malam
malam berembun justru tak terasa dingin,
Suara jangkrik berubah
menjadi gesekan biola,
Dan suara katak terdengar
bagai lagu ninabobo teristimewa.
Aku merasa begitu nyaman
berada di bawah selimut tebal,
Berlapiskan tawa canda,
Dipeluk oleh indahnya
dongeng dan cerita-cerita,
Lalu terlelap tentram dalam
hangatnya cinta... Rabu, 15 April 2015
Between a Million Lights and Colors
I saw it,
Between a million lights and colors,
Was it just an illusion?
I raised my hands,
Trying to prove whether my sight was true,
Trying to feel the reality in front of my
blind heart,
And it was just so surprising,
And I was thrilled
And my heart was trembled,
Just like the moment when I was a little
girl,
Looked at the sky after the rain,
And there I found a miraculous rainbow that I adored.
That was almost like magic, I thought.
Really, I wondered,
When I found it,
Whether it was just one little part of my
hallucination,
Whether it was just that
silly unreal character that I had in mind,
Somehow, I felt like I was so satisfied,
To be here now,
Like a curious little girl who almost solved a big puzzle,
I wish it was that one little
missing piece,
Just the last one piece
I’ve searched long before,
One that will complete
this whole riddle,
One complement piece,
And it was him,
And I saw him,
And I found him,
Standing between a million lights and colors,
Was it just a dream?
Or was it me who stood in
the wrong point of view?
Really, I couldn’t
believe my self,
I couldn’t trust my own
sight,
I wanted to prove it,
Maybe someday, I thought.
Just like an illusion,
Like magic,
There he was,
Between a million lights and colors,
My missing piece.
Dunia Kaca Luna
Aku benci menulis. Sangat benci menulis.
Karena menulis menuntutku untuk jujur pada diri
sendiri.
Aku bukan jenis orang yang dapat bersembunyi
dibalik kata-kataku.
Embun kecil, tulisan ini kupersembahkan untukmu,
Untuk membalas kebaikan-kebaikanmu,
Kali ini saja,
Spesial untukmu yang selalu memberiku semangat
dan
mengajarkanku menjadi kuat.
Iqra’...
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ :-)
***
Luna menatap cahaya terang jauh di atas sana, pada langit-langit kastil kacanya yang tinggi, awan-awan tampak hanya seperti lukisan."Cukuplah ini bagiku, jangan mengeluh!" begitu ia selalu membatin.
Ini dunianya, dunia kaca, dimana segala sesuatu terlihat sama, tapi tak pernah cukup nyata untuk dapat dirasakan, apalagi disentuh. Kemanapun ia berjalan, segala sesuatu dibatasi oleh dinding-dinding kaca yang dingin. Sinar matahari tak pernah benar-benar menghangatkan kulitnya. Kadang ia berfikir, ini tempat yang paling bodoh yang pernah ia pilih dalam hidupnya, tapi ia salah. Ini tempat teraman yang pernah ada di dunia ini. Apa lagi yang kurang? Tak ada! Ia tetap dapat melihat dunia di luar sana dari balik kaca. Ia tetap dapat menikmati indahnya hidup dan bernafas. Ini tempat yang tepat untuk ditinggali. Tak ada bahaya, tak ada suara, tak ada pengganggu dari jenis apapun. Jadi, sempurna kan?
Sempurna. Iya. Jauh dari cukup. Ia tak pantas berharap lebih dari ini.
Pada malam-malam yang dingin terkadang ia terjaga, menuruni tangga-tangga
batu dalam kastil kaca-nya, ia mendengar suara-suara. Apa kunang-kunang dapat
bernyanyi? Ia menempelkan tangannya ke dinding kaca yang terasa dingin pada
telapak tangannya yang hangat, menatap jauh keluar sana. Gelap, tapi ada banyak
cahaya indah berkelap-kelip. Saat ia menengadah, bintang-bintang bersinar
terang, bagai titik-titik berlian yang berkilauan, menggodanya untuk pergi
keluar sana. Memang mereka penggoda yang hebat. Sesekali keinginan untuk lari
dari tempat ini muncul dalam benaknya. Ia sering bermimpi tentang desau angin
di antara daun-daun. Benarkah mereka sedang bercerita satu sama lain? Dongeng
apa yang saling mereka bisikkan? Dan... ia dengar ada kelinci di bulan,
benarkah? Apa warnanya? Putih? Kuning? Atau merah muda?
Luna selalu memiliki banyak pertanyaan dalam kepalanya, tapi tak pernah
memiliki keinginan yang cukup kuat untuk mencari jawabannya. Untuk apa? Dunianya
sudah cukup sempurna. Ia tak perlu mencari apa-apa di luar sana, di dunia asing
yang tak dikenalnya. Mungkin segala sesuatu awalnya tampak menarik dari balik
kaca yang mengurung hari-harinya ini, tapi mungkin juga, hal-hal menarik
mengandung banyak bahaya yang tak terduga. Ia tak bisa mengambil resiko apapun.
Hidup ini singkat dan ia dapat menikmatinya dengan tenang di balik dinding
kacanya.
Luna tak pernah tahu siapa nama laki-laki itu, tapi ia memiliki sebuah
lukisan takdir. Lukisan itu tergantung di berbagai tempat dalam kastil kacanya.
Lukisan seorang pangeran berwajah sedih yang terjebak dalam dunia kegelapan. Bagaimana
ia akan menemukanku jika ia sendiri tak dapat menemukan dirinya? Begitu Luna
selalu bertanya-tanya. Ia tak pernah berharap banyak pada pangeran dalam
lukisan itu. Bagaimana pun itu hanyalah lukisan. Apapun bisa salah di dunia
ini. Lagi pula, takdir ditentukan oleh setiap langkah yang diambil. Bagaimana jika
pangerannya hanyalah seorang laki-laki bodoh yang gemar tersesat lalu mati di
salah satu lembah di bulan ini karena kelaparan? Ia tak ingin terlalu berharap
pada apapun di luar sana.
Setidaknya begitulah jalan fikirannya sampai hari itu, sebelum segala
keanehan mulai terjadi, mengusik segala ketenangan dan menggetarkan setiap permukaan kastil kaca-nya.
Apa gerangan yang dapat begini mengganggu dunianya?
Malam itu, ia berlari turun dari tempat tidurnya yang hangat, bertelanjang
kaki menuruni setiap anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia merasakannya,
kehadiran sesuatu yang asing di sekitar dunianya. Ia tak dapat memastikannya,
apakah itu ‘sesuatu’, atau ‘seekor’, atau ‘seseorang’. Satu hal yang dapat ia
pastikan adalah, ada hal yang asing yang sedang menyelimuti dunianya, yang tak
pernah ditemuinya selama ini, dan hal ini begitu mengusik, memaksanya keluar.
Luna tahu ia tak mungkin melakukan itu. Ia tak boleh keluar dari dunianya
yang aman. Antara rasa takut dan penasaran, ia berdiri, persis berhadapan
dengan pintu utama dunianya. Pintu itu besar, terbuat dari kaca buram tebal berukiran
rumit, dan lubang kuncinya berderet dari atas hingga bawah daun pintu. Semua
terkunci rapat. Belum cukup dengan semua itu, masih ada gagang kedua daun pintu
yang saling terbelit oleh rantai besar yang digembok dengan ratusan gembok. Ia
tak mungkin bisa keluar.
Dengan kesal, Luna memukulkan telapak tangan kecilnya pada daun pintu.
Sial. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia akan mengetahui apa yang begitu
mengganggu dunianya jika ia tak bisa memeriksa keadaan di luar? Lama, ia berdiri
di sana, menyandarkan kepalanya pada daun pintu kaca yang dingin, bisu, tapi
masih menyimpan getar pelan dalam dinding-dinding kacanya, getar yang datang mengusik
dari luar dunianya. Ia kecewa tak dapat berbuat apa-apa. Tak ada jalan.
Saat ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan mengacuhkan gangguan itu,
matanya menangkap bayangan samar di depan pintu kacanya yang buram dan tebal.
Apa itu? Bayangan itu bergerak, mendekati pintu. Ketakutan mulai muncul,
menyelinap pelan ke dalam hatinya. Apa yang sangat memungkinkan akan datang
menghampiri dunianya?
Jantungnya berdegup kencang sementara matanya masih terpaku dengan gerak
samar di depan pintunya. Luna, dengan jari-jarinya yang gemetar karena gugup,
menempelkan tangannya di daun pintu, mendekatkan telinganya ke celah super
sempit di antara kedua daun pintu. Apa ia akan mendengar sesuatu? Detik-detik
berlalu, sejauh ini yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri.
“Hei,” tiba-tiba sebuah suara menyapanya, tepat berasal dari bagian luar
pintunya. Suara yang jernih, pasti, dan begitu hidup. Luna hampir terjatuh
karena terkejut. Jantungnya berdetak sangat kencang. Mungkinkah itu bisikan
angin? Tidak, tidak! Ia memang tak pernah keluar untuk sekedar mendengar
dongeng angin kepada pepohonan, tapi ia cukup yakin di bulan tak pernah ada
suara seperti ini. Ini jelas sesuatu, atau seekor atau yang paling ia takuti,
seseorang yang sangat asing.
“Hei, jangan takut...” suara itu melunak, tapi tetap saja menghadirkan
ketakutan ke dalam hati Luna. Bagaimana mungkin suara itu begitu lancang,
menyuruhnya untuk tidak takut, sementara ia telah memberi gangguan yang begitu
meresahkan dinding-dinding kacanya?!
“Kau ini...apa?” Luna, dengan suaranya yang lirih, bergetar takut, mencoba
memberanikan diri untuk bertanya. Ah, sudah berapa lama ia tak menggunakan
suaranya? Kini ia merasa asing ketika mendengar suaranya sendiri.
“Aku...bukan ‘sesuatu’ dan bukan pula ‘seekor’. Aku ‘seseorang’,” jawab
suara itu, seolah dapat membaca fikiran Luna, ia memberikan Luna sebuah jawaban
yang diinginkannya.
Ya, entah bagaimana, Luna mengharapkan suara itu adalah suara seseorang,
padahal beberapa detik sebelumnya ia sendiri sangat yakin, hal yang paling
ditakutinya di dunia ini adalah kehadiran seseorang yang asing ke dalam
dunianya.
Selasa, 14 April 2015
Aku Sebatang Rumput
Di tengah dunia yang bising ini,
Akulah sebatang rumput tak berharga,
Yang diam menonton langit berganti-ganti warna,
Dari merah muda, biru cerah, hingga gelap gulita...
Yang membisu menjadi tempat hinggap bagi debu jalanan yang
terbang,
Tertiup angin di sore hari,
Lalu bersih seketika saat hujan memandikanku...
Yang berayun lemah memohon kasih,
Waktu badai menerpa dengan keras,
Atau waktu matahari mebakar terik tubuhku hingga layu...
Yang tak kan pernah dipandang oleh gadis-gadis kecil yang
tertawa,
Yang berlari dengan kaki telanjang menginjak dedaunan segar,
Memetik bunga cantik dan menyelipkannya ke telinga...
Lihatlah,
Aku sebatang rumput yang menatap langit,
Berharap Tuhan mengubahku menjadi sekuntum bunga indah,
Walau hanya kembang liar yang tak mempesona,
Setidaknya aku akan tampak berbeda,
Di antara rimbunnya belukar yang terlihat selalu sama...
....
Tidak, lupakan!
Aku hanya berharap.
Itu hanya harapan.
Aku tak pernah benar-benar menginginkannya.
Coba lihat,
Aku hanyalah sebatang rumput ditengah rumput-rumput lainnya,
Dan rumput membuat setangkai bunga selalu tampak berarti.
Petik ia, bawa pulang dan berikan pada kekasihmu.
Semoga kalian berbahagia...
Aku di sini saja,
Aku tetap salah satu dari mereka,
Salah satu dari rumput-rumput yang membuat sekuntum bunga
tumbuh menjadi berharga..
Sampai jumpa,
Sampai mekarnya bunga cantik berikutnya.
Minggu, 12 April 2015
Daftar Cemilan Periode Januari - April 2015
Akhirnya berhasil juga mendata semuanya! Ini adalah daftar
buku-buku yang kubeli dalam tahun ini. Ternyata, sebagian besar buku-buku yang
kupilih adalah children’s literature dengan berbagai genre, dan hanya sedikit
diantaranya yang termasuk teenlit dan novel dewasa. Semua buku bertanda FIN
telah selesai dibaca dan HALF-READ berarti belum kelar. Sigh! Banyak bangettt!
>.< Aku ngapain aja sampe reading list menumpuk kayak gini? Ampun deh! Kalau
bisa (mungkin bisa, mungkin enggak, tapi harus bisa!) bulan depan puasa dulu
deh belanja bukunya :-(
Daftar cemilan bulan January 2015
- Pizza, Love, and other Stuffs that Made Me Famous – Kathryn Williams (FIN)
- A Song to My Daughters – Barrack Obama (FIN)
- Story of the World: Pippi Langstrump – Astrid Lindgren
- A Painted House – John Grisham (FIN)
- Cookie – Jacqueline Wilson (FIN)
- Misteri Danau Siluman – Alfred Hitchcock
- Misteri Pengemis Bermuka Rusak – Alfred Hitchcock (FIN)
Daftar cemilan bulan February 2015
1.
The Great Gilly Hopkins – Katherina Paterson (HALF-READ)
2.
Petualangan di Kapal Pesiar – Enid Blyton
3.
ABARAT : DAYS OF MAGIC, NIGHTS of WAR (FIN)
4.
Anak Tani – Laura Ingalls Wilder
5.
Di Pantai Danau Perak – Laura Ingalls Wilder
6.
Scones and Sensibility – Lindsay Eland
7.
Kepala Sekolah Sinting – Gillian Cross
8.
Lagi-lagi, Grace Aja! – Charise Mericle Harper
9.
Looking for Alibrandi – Melina Marchetta
10.
Coloured Lights – Leila Aboulela
11.
Lizzie Zipmouth – Jacqueline Wilson
12.
Starring Tracy Beaker – Jacqueline Wilson
13.
Sleep Overs – Jacqueline Wilson
14.
Semester Pertama di Malory Towers – Enid Blyton
15.
Semester Terakhir di Malory Towers – Enid Blyton
16.
Hetty Feather – Jacqueline Wilson
17.
The Mum Minder – Jacqueline Wilson (FIN)
18.
Homeless Bird – Gloria Whelan
Daftar Cemilan Bulan Maret 2015
1.
Prom and Prejudice – Elizabeth Eulberg
2.
Revenge of a Girl with Great Personality –
Elizabeth Eulberg (HALF-READ)
3.
Date Note – Haris Firmansyah (FIN)
4.
The BFG – Roald Dahl (FIN)
5.
Matilda – Roald Dahl (FIN)
6.
Danny the Champion of the World – Roald Dahl
7.
Charlie and the Chocolate Factory – Roald Dahl
8.
The Witches – Roald Dahl
9.
Charlie and the Great Glass Elevator – Roald
Dahl (FIN)
10.
Esio Trot – Roald Dahl (FIN)
11.
Enormous Crocodile – Roald Dahl
12. The Giraffe and the Pelly and Me – Roald Dahl (FIN)
13.
Mr. Fox yang Fantastis – Roald Dahl
14.
The Magic Finger – Roald Dahl
Daftar cemilan bulan April 2015
1.
The Homework Machine - Dan Gutman (FIN)
2.
The Fault in Our Stars - John Green (HALF-READ)
3.
Diary Seorang Calon Putri Raja – Jessica Green (HALF-READ)
4.
The Story of Tracy Beaker – Jacqueline Wilson
5.
The Lover’s Dictionary – David Levithan
6.
Momo - Michael Ende
7.
Water Wings - Morris Gleitzman
8.
Suami untuk Mama - Christine Nostlinger
9.
Tanah Pertanian Kecil di Lereng Bukit – Roger
Lea McBride
10.
Pengelana Rumah Kecil – Laura Ingalls Wilder
11.
Goosebumps #59 Hantu Penunggu Sekolah – R.L.
Stine (FIN)
12.
Goosebumps #28 Jam Antik Pembawa Bencana – R.L.
stine (FIN)
13.
Goosebumps #27 Semalam di Menara Teror – R.L.
Stine
14.
Goosebumps Series 2000 #4 Invasion of the Body
Squeezers – R.L. Stine
15.
Flipped – Wendelin Van Draaneen
16.
Goosebumps #34 Pembalasan Kurcaci Ajaib – R.L.
Stine (FIN)
Crazy Target : 50 buku selesai sebelum Ramadhan tiba! Fight!
>.< (barangkali sisanya bisa dimakan waktu puasa Ramadhan)
Langganan:
Komentar (Atom)
