Sabtu, 06 Juni 2015

Terlalu Banyak Rindu

May 28, 2015 at 2:40am

Beberapa malam ini aku kembali insomnia. Cuma ada dua hal yang selalu kulakukan ketika tidak tidur : membaca dan menulis. Bukan CaLisTung, itu kerjaan anak SD :D Sekali membaca, aku betah membaca berjam-jam sampai pagi, apalagi saat tengah malam begini, suasana sepi dan tenang, otak jernih, asik banget buat membaca atau menulis cerpen. Sudah satu bulan ini, aku terus berlatih menulis. Kadang-kadang frustrasi juga ketika menyadari ternyata ceritaku terlalu kaku dan mind-logic-nya nggak mantep. Berharap bisa menjerit di saat-saat buntu seperti itu. Sedepresi-depresinya, sejauh ini aku belum berniat berhenti menulis. Bisa dibilang, menulis adalah hal yang paling kurindukan dan paling ingin aku lakukan sepanjang tahun ini. Sedih, teringat saat-saat SD ketika aku semangat sekali menuliskan apa saja. Tidak pernah berhenti berjuang walau tulisanku beberapa kali nggak published di majalah anak-anak waktu itu. Semangat membara itu, kemana hilangnya selama tahun-tahun yang telah terlewati tadi? Aku tak habis pikir. Saat SMP, aku ingat sekali, aku pernah membuat cerita bersambung lengkap dengan ilustrasinya. Aku menuliskannya di sebuah buku tulis khusus. Teman-temanku selalu menjadi pembaca setia yang menanti-nanti kelanjutan ceritaku. Selain itu, aku juga ingat bagaimana serunya menulis mading bersama teman-teman. Kadang-kadang aku mendapat tugas menulis, kadang membuat ilustrasi. Aku nggak pernah bosan mengirim puisi-puisi cupu-ku ke berbagai majalah anak-anak dan remaja. Saat itu, sebagai gadis kecil yang terlalu asik dengan dunianya sendiri, entah kenapa aku nggak pernah kekurangan ide untuk menulis. Selalu ada yang kutulis. Paling bahagia saat dapet honor dari majalah. Rasanya kayak habis dikasih harta karun. Hahhah. Asik yaa. Kenapa baru sekarang aku merindukan saat-saat itu? Rindu itu rasanya sakit. Sekarang, walaupun aku mulai menulis lagi, tapi rasanya nggak sama seperti dulu. Mungkin karena aku terlalu lama vacuum menulis ya? Entahlah...tapi karna rindu, makanya sekarang aku menulis hampir setiap hari. Seolah-olah setiap tulisan itu berbisik padaku, "jangan tinggalkan aku lagi..." ^_^ Aku akan terus belajar, insyaa Allah.

Salah satu orang terbaik yang menyemangatiku untuk menulis adalah Lit-D. Oh D, I'm really missing you... Jika ada orang yang paling ingin kutemui saat ini, orang itu adalah dia. Teman terbaik, teman paling sabar, teman yang paling menyayangiku. Terlalu banyak kata tentang kebaikannya. Dia seperti seorang kakak berhati tangguh. Tidak satupun saat-saat bersamanya yang bisa kulupakan. Aku rindu hari-hari ketika kami berjalan kaki di bawah rindangnya pohon-pohon, menuju Masjid Kampus UGM, berdua, penuh cerita sepanjang jalan. Aku rindu saat-saat ketika kami mengendap-endap di depan kantor jurusan, menghindari dosen pembimbing kami yang beraura kutub utara, hahhah. Lit-D, aku berharap akan datang hari-hari ketika kita tertawa bersama lagi. Walaupun sekarang semuanya sudah tak sama lagi, aku yakin perasaanku tentangmu akan tetap sama sampai kapanpun. I miss you... *crying*

Dan sekarang Ramadhan semakin mendekat. Daftar kerinduanku bertambah banyak. Sekali lagi, rindu itu rasanya sakit. Bikin sesak di dalam dada.

Aku sangat merindukan ibuku. Aku rindu semua tentangnya. Aku rindu caranya mengkhawatirkanku. Aku rindu nada suaranya yang selalu cemas hanya karena aku belum makan siang. Aku rindu setiap rasa masakannya. Aku rindu dengan wajah tegarnya. Ibuku adalah orang paling hebat yang pernah kukenal di dunia ini. Kuharap aku setangguh itu. Aku ingin Tuhan menganugerahiku hati seperti yang dimiliki ibuku. Hati yang selalu menerima segala sesuatu dengan baik. Hati yang selalu memaafkan. Hati yang lembut seperti kapas, tapi juga kokoh seperti karang. Tahun 2014 adalah tahun yang dalam sejarah hidupku, ketika aku sangat amat sering memeluknya. Ketika aku mulai sakit, ibuku selalu terjaga dan memeriksa kondisiku. Dia yang menangis untukku. Dia yang berdoa untukku. Dia yang menguatkan hatiku. Aku sedih melihatnya tidak bahagia. Satu hal yang sangat kuinginkan saat itu, aku ingin Allah beri kesembuhan, hanya agar ibuku tersenyum lagi. Aku tak kuasa saat memandanginya ketika tertidur. Tak terasa, wajah cantiknya mulai menampakkan kerutan halus dan bagian bawah matanya menjadi gelap karena kurang tidur. Hatiku terluka mengamati setiap tanda-tanda kelelahannya. Apa yang sudah kulakukan? Aku menyulitkan orang yang paling mencintaiku, bagaimana mungkin? Sampai saat ini, aku tak pernah tahu apa yang dapat kuberikan untuknya. Jika sampai mati aku tak bisa memberi apa-apa, setidaknya, aku ingin menjadi anak perempuan yang baik untuknya, sampai hari terakhir hidupku. Emak, ini janjiku untukmu : Aku akan selalu berusaha taat pada Allah. Percayalah, sekeras apapun imanku digoda, aku akan berjuang menjadi anak baik untukmu.

Wah, aku menangis ternyata. Hahaha. Dasar cengeng. Ini karena aku sangat merindukannya...

Ramadhan di depan mata. Aku tak sabar. Semoga Allah temukan aku dengan bulan penuh ampunan ini. Dosa-dosaku pasti sudah kembali menumpuk. Aku senang Allah ciptakan satu bulan kesempatan menghapus dosa. Keren aja. Terasa kayak door prize :D Ramadhan di kampung halaman juga mengundang kerinduan. Ramadhan tak pernah terasa sama di setiap kota yang pernah kusinggahi. Tentu saja, Ramadhan paling asik tetaplah Ramadhan yang bersama keluarga. Tiba-tiba, ingat nada suara Nenek ketika membangunkanku sahur saat berlibur di rumahnya beberapa hari. Tuhan, aku merindukan mereka semua. Ramadhan kali ini aku berencana pulang. Selain karena kondisi kesehatan yang tampaknya menurun, juga karena aku ingin menumpahkan semua kerinduanku. Yeah, Home, I'm coming...

Sebenarnya, masih banyak kerinduan-kerinduan lainnya, tapi ini sudah pukul setengah tiga pagi. Aku ingin istirahat sebentar sebelum sholat subuh.

Untuk saat ini, aku belum bisa menulis di blog. Mungkin aku akan melampiaskan keinginan menulisku di sini saja untuk sementara, sampai aku bisa kembali lagi ke blog.

Salam rindu untuk Luna dan teman-teman kelinci di bulan.
xxx!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar