Senin, 11 Mei 2015

Mencintai Tanpa Takut Kehilangan?

Hihi, agak dramatis ya judulnya. Mencintai tanpa takut kehilangan. Ada? Ada! Emang bisa? Bisa dong!

Kamu punya orang yang disayangi? Sodara? Orangtua? Atau teman? Pernah nggak, takut merasa kehilangan? Takut berpisah? Takut ditinggal pergi? Atau takut ditinggal mati?

Pernah dong ya, posesif itu kan rasa yang manusiawi.

Ketika seseorang menangis karena ditinggalkan, pasti itu disebabkan oleh rasa sakit yang menusuk hati, eecchiiieee :D Kenapa sakit?

Rasa sakit itu menunjukkan, karena orang tersebut telah memiliki tempat di hatimu. Ibaratnya gigi nih ya, masing-masing udah punya tempatnya di gusi, coba kalo dicabut, sakiitt kaannn :D Bagian yang sudah tercabut itu terasa hilang dan bolong dan kosong dan hampa, ahahhahah (ngakak sendiri) :D

Oke, oke, back to the main topic. Rasa kehilangan itu adalah bukti bahwa kamu mencintai dan menganggap apa yang pergi itu adalah milikmu. Gimana caranya biar nggak merasa kehilangan?

Maka jangan merasa memiliki! Itu dia, Gals!

Aneh ya? Mencintai tapi kok nggak merasa memiliki, terus dianggep apaan? Ini lagi ngobrolin tentang Hubungan Tanpa Status??? Nggak ada statusnya, jadi nggak memiliki, gitu?

Bukan dong! Untuk bisa mencintai tanpa rasa takut kehilangan, yang pertama perlu kita perbaiki adalah persepsi kita tentang cinta itu sendiri. Alkisah, pada jaman dahulu kala, saya selalu diajarkan, bahwa cinta itu berarti tunduk atau taat. Ketika kamu mencintai Tuhanmu, ibumu, suamimu, maka kamu tunduk pada mereka. Tunduk di sini tentu berarti taat kepada hal yang benar, bukan taat semena-mena. Ketika kamu mencintai sahabatmu, artinya sahabatmu telah menundukkan hatimu. Kamu rela berbagi apapun bersamanya, rela menerima setiap kekurangannya, dan bersedia untuk selalu mendukungnya. Hati yang tunduk pada apa yang dicintainya, membuat pemilik hati itu siap untuk menjaga dan melindungi apa yang dicintainya. Gitu, Gals. Waduh, makin ke sini, ini tulisan lama-lama kok terasa lebay yah? -_- Mungkin karena saya sendiri tidak bergitu berpengalaman soal cinta, jadi terasa hambar kayak roti tawar. Hyaaahh, sudah abaikan! Dalam tulisan kan yang penting teori yah, ahahah.

Lanjut. Begitulah. Ketika kita mencintai Allah, maka kita tunduk pada setiap aturanNya, kita menjaga sholat-sholat kita, menjaga ucapan dan perilaku kita dari hal-hal yang tidak disukai-Nya. Kita hanya ingin Dia ridho, kita hanya ingin Dia menerima cinta kita dan mengharapkan balasan cinta-Nya. Ketika kita cinta kepada kedua orangtua kita, kita taat dengan setiap larangan walau cuma hal kecil seperti jangan tidur larut malam atau jangan membaca buku sambil tiduran (ini gue!). Itulah cinta, ketundukan yang membuat kita rela menjaga hati orang yang dicintai. Kadang, nggak cukup hanya dengan menjaga hati yang dicintai, tapi juga sampai menjaga jiwa raganya. Ibu kita, dengan segala kekhawatirannya ketika kita sakit, rela menunggui kita, merawat dengan penuh kesabaran. Ayah kita bekerja, demi menjaga kehormatan kita, agar kita setara dengan anak-anak lainnya, bisa tetap mendapatkan pendidikan, punya baju yang layak, punya handphone, cukup makan dan minum, dia rela lembur siang malem, sekedar agar kita tidak malu, tidak direndahkan oleh anak lain. Keren ya bisa mencintai seperti kedua orang tua kita ^_^ Jadi, point pentingnya adalah, dalam mencintai, sebenarnya tugas kita hanya menjaga dan melindungi, nggak lebih dari itu.



Masalahnya, hati yang telah takhluk dan tunduk itu bisa kebablasan, Gals! Ahahha (ngikik sendiri nulis ini). Saking kita berambisi untuk menjaga dan melindungi apa yang kita cintai, kita jadi lupa bahwa sejatinya kesetiaan itu hanyalah dipersembahkan untuk Allah saja. Iya, salah ketika kita mengalamatkan kesetiaan kepada manusia. Setiap hati manusia adalah milik Allah, maka ketika hati kita setia kepada Allah, sudah otomatis hati kita tidak akan berkhianat kepada siapapun. Pada Pencipta semesta aja udah setia, gimana lagi kalo yang dicintai cuma manusia, pastinya setia bangeeettt. Tentunya setia dalam hal yang bener ya, Gals! Idiih, mulai terasa garing lagi nih, apa cuma gue aja yang merasa begitu ya? Habis, entah kenapa nulis pake bertema cinta segala, pusing deh pala Barbie! -_-

Jadi, gimana sih caranya tetap mencintai tanpa takut kehilangan?

Eh, tiba-tiba jadi inget, kayak lagunya siapa tuh, cinta tak harus memiliki (eeaaaa).

Gals, tidak merasa memiliki terhadap apa yang kita cintai itu emang sulit. Kamu harus yakin, segala sesuatu yang ada dunia ini memang bukan milik kamu, termasuk orang-orang yang kamu sayangi. Allah yang punya! He’s the owner of us! Diri kita sendiri, fikiran dan hati, bahkan nyawa kita, semuanya milik Dia saja. Nggak satu hal pun adalah milik kita selama kita hidup. Itulah mengapa kita nggak boleh terlalu mencintai dunia, karena pada akhirnya, semua ini akan kembali kepada pemilik sebenarnya. Sesuai dengan makna cinta yang berarti tunduk, maka selama kita mencintai, kita hanya dititipi orang yang kita sayangi untuk kita jaga kita lindungi semampu kita, tidak lebih dari itu.

Jadi, ketika ada orang yang pergi keluar dari kehidupan kita, ikhlaskanlah, terimalah dan maafkanlah, karena kita sama sekali tidak berhak untuk campur tangan pada jalan hidup yang telah Allah tentukan bagi siapapun yang kita sayangi. Berdamailah dengan kenyataan. Yakinlah bahwa ketika Allah mengambil sesuatu dari tangan kita, itu karena Allah ingin menggantinya dengan sesuatu yang baru, yang lebih baik tentunya. Kebaikan ini Allah berikan bukan saja untuk orang yang meninggalkan, tapi tentu untuk orang yang ditinggalkan juga. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 216 :

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui,"

Gitu, Gals. Allah kan yang nyiptain kita, tentunya Dia lebih tau apa yang terbaik untuk kita. Jadi, udah deh, nggak usah ngotot untuk memiliki. Jangan maksa! Santai aja sih! Ahahah, ini yang nulis udah mulai bete. Atau, udah mulai laper yah? Ahahah. Intinya, yakinlah bahwa segalanya adalah milik Allah, bukan milikmu dan jangan lupa berprasangka baiklah untuk setiap kehilangan yang pernah terjadi dalam hidupmu. Setiap sesuatu yang pergi, jangan disimpan jadi benci, maafkan, ikhlaskan. So, jangan pernah takut kehilangan yah, karena Allah sudah berjanji, pasti memberi ganti yang lebih baik. Ini janji Allah lo, bukan janji aku, jadi kudu percaya! Memiliki atau tidak memiliki, kita tetap selalu bisa mencintai orang yang kita sayangi. Kalau tak bisa menjaganya dengan tangan kita sendiri, penjagaan paling hebat adalah dengan doa. Sip. Titipkan dia pada Allah. Percayakan pada-Nya. Selamat mencintai! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar