May 28, 2015 at 9:44pm
Aku tak pernah benar-benar mengingat, sejak kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta kepada langit dan isinya. Kata orang, cinta bukan sesuatu yang kita rencakan atau kita atur. Ia hadir begitu saja, tanpa butuh alasan, tanpa ada perkiraan waktu. Begitulah kekagumanku ketika menatap langit. Kekaguman yang tiba-tiba sudah ada dan tumbuh di dalam hati, tanpa aku sadari kapan atau bagaimana munculnya.
Satu hal paling indah tentang langit adalah, aku selalu bisa menatapnya dalam perasaan apapun, dan hal itu selalu menjadi terapi hati terbaik untukku ketika gundah. Menatap langit membuatku merasa begitu kecil dan tak berarti. Rasanya aku seperti serpih debu kecil di tengah hingar bingar dunia. Kadang aku membayangkan, Allah sedang balas menatapku dari atas sana. Apa yang mungkin Dia katakan ketika melihat tingkah konyolku?
"Hei, gadis kecilku, kenapa kau berjalan dengan kepala menengadah seperti itu? Awas, jangan sampai tersandung!" mungkin begitu.
Hahaha, aku memang suka melakukannya saat kecil dulu. Ada begitu banyak cerita tentang langit di masa kecilku, dan hebatnya, semuanya selalu terasa indah untuk dikenang kembali.
Malam-malam musim kemarau di tahun-tahun masa kecilku terasa begitu hangat. Langit di hari itu terlihat jauh lebih jernih. Aku paling senang berjalan kaki di malam hari, atau naik sepeda bersama Bapak. Kalau lelah berjalan, aku selalu meminta Bapak untuk menggendongku. Udara malam tak pernah terasa terlalu dingin. Aku selalu antusias ketika melihat sekelompok besar kunang-kunang yang berkelap-kelip cantik pada sebatang pohon atau pada rumpun semak-semak. Aku tak perrnah bosan melihatnya. Bahkan sampai sekarang, aku masih saja takjub ketika menemukan pohon penuh kunang-kunang. Aku suka melihat cahaya-cahaya kecilnya berkelip dalam kegelapan. Indah. Mirip bintang-bintang di langit. Kalau kita menatap sebuah bintang dengan fokus, pasti ia terlihat seolah sedang berkelip juga. Karena aku suka bintang-bintang, dinding ruang tamu akhirnya kupenuhi dengan gambar bintang. Aku menggambarnya dengan spidol berwarna-warni pula! Great! Masa kecilku kreatif tanpa batas, hahaaha...
Langit gelap menyembunyikan banyak cerita. Ada malam ketika aku bermain boneka kertas hingga larut, bersama sahabat masa kecilku. Ada malam ketika kami sekeluarga mengunjungi Medan Fair. Stan lempar gelang, wahana bianglala, lampu-lampu neon kecil berkelip warna-warni, semuanya menyenangkan. Ada juga suatu malam ketika aku menangis frustrasi karena tak bisa mengerjakan PR matematika pertamaku. Bapak, dialah pahlawan yang menyeka tangis si little princess.
Saat pertama kali mendapat pelajaran IPA, aku bersemangat sekali ketika kelasku memasuki bab tentang tata surya. Belajar tentang meteor, planet, matahari, bulan, satelit, dan benda-benda langit lainnya benar-benar membuatku bahagia. Aku ingat, hampir setiap halaman bab tata surya itu kuberi tanda dengan highlight color. Itu kulakukan karena sulit sekali bagiku memikirkan bagian mananya yang tidak penting. Semua kalimat terasa sangat penting untukku!
Langit. Oh, langit.
Aku ingat suatu pagi dengan langit yang sangat indah. Saat dunia menjemput sang bola cahaya yang hangat, langit yang gelap berubah dan mulai bercampur warna dengan biru, merah muda, violet, dan sedikit jingga. Di timur, selalu ada satu bintang paling besar yang selalu kuamati. Kejora. Disebut juga planet Venus. Dia selalu berkilau cemerlang, bagai berlian yang melayang tinggi di angkasa. Aku mengaguminya sepenuh hati, dan bahagia sekali ketika aku mulai menghafal lirik lagu "Bintang Kejora".
Pagi-pagi Ramadhanku di masa kecil, adalah pagi ketika adzan dari masjid terdengar begitu jelas, begitu jernih membelah heningnya fajar yang pelan-pelan menyelimuti langit gelap. Luna kecil bangun penuh semangat, mengambil wudhu lalu berjalan ke masjid yang hanya berjarak lima rumah dari rumahnya. Pagi-pagi yang kosong bisu terisi dengan tawa dan celotehnya bersama teman-teman mungilnya. Ia, Luna selalu punya banyak teman. Hihi, aku selalu salut dengan jiwa masa kecilku. Little Luna, where are you? Dia adalah gadis kecil tangguh, loveable, penuh semangat, tak pernah takut dengan kekalahan. Ia bahkan tak pernah mengenali bacaan-bacaan sholat, tetapi "jiwa mesjid"-nya mengalahkan para pria. Ahahaha.
Walau waktu terus berjalan, langit tak banyak berubah ketika aku mulai remaja. Itu adalah hari-hari ketika Luna kecil kehilangan kepercayaan diri. Aku sangat paham apa dirasakannya. Sendirian. Kesepian. Tak ada yang memahaminya. Ia tak punya teman, bukan karena tak ingin berteman. Dunianya berubah. Terbalik sepenuhnya. Ia berusaha keras untuk masuk dan terbiasa, tapi ternyata sulit sekali. Gadis-gadis kecil di sekelilingnya berubah menjadi wanita-wanita pencinta harta. Di sudut-sudut kelas selalu ada ajang pamer gelang terbaru, style rambut terbaru, baju terbaru, dan macam-macam lagi yang terbaru. Sekolah berubah menjadi panggung catwalk. Gap terbentuk dengan mudah. Luna kecil tak bisa masuk ke geng cewek yang manapun. Ia terbuang. Kasihan. Ketika keluarganya pindah ke rumah baru bertingkat dua, di sana ia kembali mengadu kepada langit setiap malam. Mengamati yang mana satelit dan yang mana meteor... Menempelkankan banyak gambar planet-planet dan bulan di dinding kamar barunya... Mempelajari mitos-mitos Yunani kuno tentang dewa dewi yang namanya dijadikan nama-nama planet... Bahkan, mengawali menulis diary dengan kata "Dear Stary Sky."
Begitulah. Langit dan para sahabatnya menjadi teman sepanjang hidupku. Ketika aku mulai rajin membaca Al-Qur'an, aku bangga sekali menemukan bahwa namaku merupakan nama dari salah satu ayat suci di sana : Al-Qomar, yang berarti bulan. Aku dulu bertanya-tanya, jika aku jadi bulan, lalu dimana keluargaku?
Aku pernah membuat sebuah pengandaian. Langit adalah Bapak, karena ia memeluk seisi dunia. Matahari adalah ibuku, karena ia hangat dan menghangatkan siapa saja. Adik pertamaku adalah venus, karena ia cantik, sensitif, dan feminin. Merkurius adalah adik kecilku, karena ia tangguh tapi teramat manja, letaknya dekat dengan ibuku, matahari. Jadi, kenapa aku harus bulan? Karena aku mendapatkan sinarku dari ibuku. Sinarnya membuatku bertahan dalam kegelapan. Hihi, Luna kecil suka berandai-andai.
I wonder, where is that little loveable girl? The sky is missing her...
Mungkin, dia di bulan.
Wow keren.
BalasHapusSalam kenal.