Rabu, 15 April 2015

Dunia Kaca Luna

Aku benci menulis. Sangat benci menulis.
Karena menulis menuntutku untuk jujur pada diri sendiri.
Aku bukan jenis orang yang dapat bersembunyi dibalik kata-kataku.
Embun kecil, tulisan ini kupersembahkan untukmu,
Untuk membalas kebaikan-kebaikanmu,
Kali ini saja,
Spesial untukmu yang selalu memberiku semangat 
dan mengajarkanku menjadi kuat.
Iqra’...
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَق َ :-)

 ***



Luna menatap cahaya terang jauh di atas sana, pada langit-langit kastil kacanya yang tinggi, awan-awan tampak hanya seperti lukisan.
"Cukuplah ini bagiku, jangan mengeluh!" begitu ia selalu membatin.
Ini dunianya, dunia kaca, dimana segala sesuatu terlihat sama, tapi tak pernah cukup nyata untuk dapat dirasakan, apalagi disentuh. Kemanapun ia berjalan, segala sesuatu dibatasi oleh dinding-dinding kaca yang dingin. Sinar matahari tak pernah benar-benar menghangatkan kulitnya. Kadang ia berfikir, ini tempat yang paling bodoh yang pernah ia pilih dalam hidupnya, tapi ia salah. Ini tempat teraman yang pernah ada di dunia ini. Apa lagi yang kurang? Tak ada! Ia tetap dapat melihat dunia di luar sana dari balik kaca. Ia tetap dapat menikmati indahnya hidup dan bernafas. Ini tempat yang tepat untuk ditinggali. Tak ada bahaya, tak ada suara, tak ada pengganggu dari jenis apapun. Jadi, sempurna kan?

Sempurna. Iya. Jauh dari cukup. Ia tak pantas berharap lebih dari ini.

Pada malam-malam yang dingin terkadang ia terjaga, menuruni tangga-tangga batu dalam kastil kaca-nya, ia mendengar suara-suara. Apa kunang-kunang dapat bernyanyi? Ia menempelkan tangannya ke dinding kaca yang terasa dingin pada telapak tangannya yang hangat, menatap jauh keluar sana. Gelap, tapi ada banyak cahaya indah berkelap-kelip. Saat ia menengadah, bintang-bintang bersinar terang, bagai titik-titik berlian yang berkilauan, menggodanya untuk pergi keluar sana. Memang mereka penggoda yang hebat. Sesekali keinginan untuk lari dari tempat ini muncul dalam benaknya. Ia sering bermimpi tentang desau angin di antara daun-daun. Benarkah mereka sedang bercerita satu sama lain? Dongeng apa yang saling mereka bisikkan? Dan... ia dengar ada kelinci di bulan, benarkah? Apa warnanya? Putih? Kuning? Atau merah muda?  

Luna selalu memiliki banyak pertanyaan dalam kepalanya, tapi tak pernah memiliki keinginan yang cukup kuat untuk mencari jawabannya. Untuk apa? Dunianya sudah cukup sempurna. Ia tak perlu mencari apa-apa di luar sana, di dunia asing yang tak dikenalnya. Mungkin segala sesuatu awalnya tampak menarik dari balik kaca yang mengurung hari-harinya ini, tapi mungkin juga, hal-hal menarik mengandung banyak bahaya yang tak terduga. Ia tak bisa mengambil resiko apapun. Hidup ini singkat dan ia dapat menikmatinya dengan tenang di balik dinding kacanya.

Sebenarnya, ada satu harapan kecil yang selalu disimpannya. Harapan yang sangat kecil sampai-sampai kadang ia sendiri lupa bahwa harapan itu ada. Harapan ditemukan oleh pangerannya.

Luna tak pernah tahu siapa nama laki-laki itu, tapi ia memiliki sebuah lukisan takdir. Lukisan itu tergantung di berbagai tempat dalam kastil kacanya. Lukisan seorang pangeran berwajah sedih yang terjebak dalam dunia kegelapan. Bagaimana ia akan menemukanku jika ia sendiri tak dapat menemukan dirinya? Begitu Luna selalu bertanya-tanya. Ia tak pernah berharap banyak pada pangeran dalam lukisan itu. Bagaimana pun itu hanyalah lukisan. Apapun bisa salah di dunia ini. Lagi pula, takdir ditentukan oleh setiap langkah yang diambil. Bagaimana jika pangerannya hanyalah seorang laki-laki bodoh yang gemar tersesat lalu mati di salah satu lembah di bulan ini karena kelaparan? Ia tak ingin terlalu berharap pada apapun di luar sana.

Setidaknya begitulah jalan fikirannya sampai hari itu, sebelum segala keanehan mulai terjadi, mengusik segala ketenangan dan menggetarkan setiap permukaan kastil kaca-nya.
Apa gerangan yang dapat begini mengganggu dunianya?

Malam itu, ia berlari turun dari tempat tidurnya yang hangat, bertelanjang kaki menuruni setiap anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia merasakannya, kehadiran sesuatu yang asing di sekitar dunianya. Ia tak dapat memastikannya, apakah itu ‘sesuatu’, atau ‘seekor’, atau ‘seseorang’. Satu hal yang dapat ia pastikan adalah, ada hal yang asing yang sedang menyelimuti dunianya, yang tak pernah ditemuinya selama ini, dan hal ini begitu mengusik, memaksanya keluar.

Luna tahu ia tak mungkin melakukan itu. Ia tak boleh keluar dari dunianya yang aman. Antara rasa takut dan penasaran, ia berdiri, persis berhadapan dengan pintu utama dunianya. Pintu itu besar, terbuat dari kaca buram tebal berukiran rumit, dan lubang kuncinya berderet dari atas hingga bawah daun pintu. Semua terkunci rapat. Belum cukup dengan semua itu, masih ada gagang kedua daun pintu yang saling terbelit oleh rantai besar yang digembok dengan ratusan gembok. Ia tak mungkin bisa keluar.

Dengan kesal, Luna memukulkan telapak tangan kecilnya pada daun pintu. Sial. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia akan mengetahui apa yang begitu mengganggu dunianya jika ia tak bisa memeriksa keadaan di luar? Lama, ia berdiri di sana, menyandarkan kepalanya pada daun pintu kaca yang dingin, bisu, tapi masih menyimpan getar pelan dalam dinding-dinding kacanya, getar yang datang mengusik dari luar dunianya. Ia kecewa tak dapat berbuat apa-apa. Tak ada jalan.

Saat ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan mengacuhkan gangguan itu, matanya menangkap bayangan samar di depan pintu kacanya yang buram dan tebal. Apa itu? Bayangan itu bergerak, mendekati pintu. Ketakutan mulai muncul, menyelinap pelan ke dalam hatinya. Apa yang sangat memungkinkan akan datang menghampiri dunianya?

Jantungnya berdegup kencang sementara matanya masih terpaku dengan gerak samar di depan pintunya. Luna, dengan jari-jarinya yang gemetar karena gugup, menempelkan tangannya di daun pintu, mendekatkan telinganya ke celah super sempit di antara kedua daun pintu. Apa ia akan mendengar sesuatu? Detik-detik berlalu, sejauh ini yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri.

“Hei,” tiba-tiba sebuah suara menyapanya, tepat berasal dari bagian luar pintunya. Suara yang jernih, pasti, dan begitu hidup. Luna hampir terjatuh karena terkejut. Jantungnya berdetak sangat kencang. Mungkinkah itu bisikan angin? Tidak, tidak! Ia memang tak pernah keluar untuk sekedar mendengar dongeng angin kepada pepohonan, tapi ia cukup yakin di bulan tak pernah ada suara seperti ini. Ini jelas sesuatu, atau seekor atau yang paling ia takuti, seseorang yang sangat asing.

“Hei, jangan takut...” suara itu melunak, tapi tetap saja menghadirkan ketakutan ke dalam hati Luna. Bagaimana mungkin suara itu begitu lancang, menyuruhnya untuk tidak takut, sementara ia telah memberi gangguan yang begitu meresahkan dinding-dinding kacanya?!

“Kau ini...apa?” Luna, dengan suaranya yang lirih, bergetar takut, mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Ah, sudah berapa lama ia tak menggunakan suaranya? Kini ia merasa asing ketika mendengar suaranya sendiri.

“Aku...bukan ‘sesuatu’ dan bukan pula ‘seekor’. Aku ‘seseorang’,” jawab suara itu, seolah dapat membaca fikiran Luna, ia memberikan Luna sebuah jawaban yang diinginkannya.

Ya, entah bagaimana, Luna mengharapkan suara itu adalah suara seseorang, padahal beberapa detik sebelumnya ia sendiri sangat yakin, hal yang paling ditakutinya di dunia ini adalah kehadiran seseorang yang asing ke dalam dunianya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar