Selasa, 14 April 2015

Aku Sebatang Rumput

Di tengah dunia yang bising ini,
Akulah sebatang rumput tak berharga,
Yang diam menonton langit berganti-ganti warna,
Dari merah muda, biru cerah, hingga gelap gulita...
Yang membisu menjadi tempat hinggap bagi debu jalanan yang terbang,
Tertiup angin di sore hari,
Lalu bersih seketika saat hujan memandikanku...
Yang berayun lemah memohon kasih,
Waktu badai menerpa dengan keras,
Atau waktu matahari mebakar terik tubuhku hingga layu...
Yang tak kan pernah dipandang oleh gadis-gadis kecil yang tertawa,
Yang berlari dengan kaki telanjang menginjak dedaunan segar,
Memetik bunga cantik dan menyelipkannya ke telinga...

Lihatlah,
Aku sebatang rumput yang menatap langit,
Berharap Tuhan mengubahku menjadi sekuntum bunga indah,
Walau hanya kembang liar yang tak mempesona,
Setidaknya aku akan tampak berbeda,
Di antara rimbunnya belukar yang terlihat selalu sama...
....
Tidak, lupakan!
Aku hanya berharap.
Itu hanya harapan.
Aku tak pernah benar-benar menginginkannya.

Coba lihat,
Aku hanyalah sebatang rumput ditengah rumput-rumput lainnya,
Dan rumput membuat setangkai bunga selalu tampak berarti.
Petik ia, bawa pulang dan berikan pada kekasihmu.
Semoga kalian berbahagia...
Aku di sini saja,
Aku tetap salah satu dari mereka,
Salah satu dari rumput-rumput yang membuat sekuntum bunga tumbuh menjadi berharga..
Sampai jumpa,
Sampai mekarnya bunga cantik berikutnya.



2 komentar:

  1. puisinya bagus,pemilihan katanya juga apik dan keren :)

    BalasHapus